KONSEP KOMUNIKASI DALAM AL-QUR’AN

A. Latar Belakang Masalah

quranMenurut bentuknya, komunikasi dibedakan menjadi dua, verbal dan non verbal. Mengingat luasnya ruang lingkup komunikasi, penelitian ini hanya akan difokuskan pada komunikasi verbal, yakni bentuk komunikasi yang manggunakan simbol-simbol bermakna dan berlaku umum dalam proses komunikasi melalui suara, tulisan atau gambar. Lebih khusus lagi komunikasi verbal yang mengunakan simbol suara saja.

Dengan kemampuan komunikasi verbal yang dimiliki, Bung Karno mampu memukau pendengar selama berjam-jam, tanpa bergeming. Hitler berhasil mempengaruhi kaum nazi untuk menumpas kaum Yahudi.. Bung Tomo, dengan teriakan takbirnya yang menggetarkan hati para pejuang, mampu menggerakan arek-arek Suroboyo melawan dan mengusir Belanda, hanya dengan senjata bambu runcing. Torik Bin Ziad, mampu membakar semangat juang pasukannya, sesaat setelah mendarat dan berpidato dengan latar belakang kapal yang telah dibakar atas perintahnya: ”Saudara-saudara. Lautan di belakang kalian, dan musuh di depan hidung. Kita berada pada poin of no return. Tidak ada tempat untuk berlari. Tidak ada alternatif lain, selain meluluh-lantakkan musuh. Serbuuu…”. Dan Tarikpun menang.
Dengan kemampuan berkomunikasi verbal secara efektif, ternyata kebenaran pemikiran manusia yang sedemikian relatif dapat mempengaruhi jalan pikiran berjuta anak bangsa. Islam sebagai dien yang sempurna tentu akan dapat disosialisasikan dan diinternalisasikan kepada para pemeluknya untuk lebih dihayati dan diamalkan secara murni dan konsekuen, jika disampaikan oleh guru agama atau muballigh yang mampu melakukan komunikasi verbal secara efektif.
Kalau saja para guru agama Islam menguasai metode berkomunkasi verbal dengan efektif, akan dapat menginternalisasikan ajaran Islam dalam benak dan dada semua murid sehingga dapat besikap dan berperilaku sebagai muslim sejati. Disamping itu, kalau saja para muballigh menguasai cara berkomunikasi verbal sebagaimana Bung Tomo, Bung Karno, Hitler, atau Toriq bin Ziad, masjid akan selalu penuh orang-orang yang melakukan shalat secara berjamaah lima waktu. Indonesia sepi dari koruptor atau pelaku kejahatan lainnya.
Banyak buku yang membahas tentang konsep ini, baik yang terkait dengan masalah teknik presentasi efektif, metode public speaking, maupun cara bicara retoris
yang pada umumnya berasal dari Barat.
Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna seharusnya memiliki konsep tentang know how berkomunkasi verbal. Demikian pula halnya dengan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang mengkover berbagai persoalan yang dihadapi manusia, tidak terkecuali tentang konsep komunikasi verbal.
Al-Qur’an memerintahkan untuk berbicara efektif (Qaulan Baligha). Semua perintah jatuhnya wajib, selama tidak ada keterangan lain yang memperingan. Begitu bunyi kaidah yang dirumuskan Ushul Fiqh. Dari sisi lain Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah berbicara secara efektif atau diam”.
Asy-Syaukani dalam Kitab tafsir Fathul Qadir, sebagaimana dikutip Jalauddin Rahmat, mengartikan al-Bayan sebagai kemampuan berkomunikasi. Konsep tentang komunkasi verbal tidak hanya berkaitan dengan masalah cara berbicara efektif saja melainkan juga etika bicara. Semenjak memasuki era reformasi masyarakat Indonesia berada dalam suasana euforia, bebas bicara tentang apa saja, terhadap siapapun , dengan cara bagaimanapun . Hal ini terjadi, setelah mengalami kehilangan kebebasan bicara selama 32 tahun di masa Orde Baru. Memasuki Era Reformasi orang menemukan suasana kebebasan komunikasi verbal, sehingga tidak jarang cara maupun muatan pembicaraan berseberangan dengan etika ketimuran, bahkan etika keagamaan Islam, sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia.
Terkait dengan etika berbicara, kebebasan mengemukakan ide serta pikiran, beberapa waktu lalu dalam forum tanya jawab bersama masyarakat Indonesia di Bangkok,15 Desember 2005 tentang issue foto Presiden RI dengan Mayangsari, Presiden Susilo Bambang Yudoyono menyatakan, bahwa setiap orang berhak mengemukakan ide dan pikirannya seperti yang diamanatkan UUD 1945 pasal 29. Akan tetapi hak itu juga dibatasi dengan ketentuan lain pada pasal yang sama, yakni hak yang dimiliki tidak boleh menganggu orang lain, norma susila dan agama.
Fakta di atas mendorong penulis untuk meneliti dan mengkaji ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan masalah konsep komunikasi verbal, melalui pandangan para mufasir dan mengkonfirmasikanya dengan teori-teori komunikasi verbal yang ada.
Melalui pengkajian dan penelitian ini diharapkan dapat diketahui secara pasti, adakah ayat- ayat yang menyinggung persoalan komunkasi verbal? Bagaimana sesungguhnya konsep berkomunikasi secara verbal dalam al-Qur’an, sebagaimana yang dikupas oleh para mufasir, baik yang menyangkut cara ataupun etika.

B. Rumusan Masalah
Berkaitan dengan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah term komunikasi verbal dalam al-Qur’an?
2. Bagaimanakah konsep komunikasi verbal dalam perspektif mufasir al-Qur’an?
3. Bagaimanakah keterkaitan konsep komunikasi verbal dalam al-Qur’an dengan konsep komunikasi verbal dalam perpektif pakar ilmu komunikasi ?

C. Tujuan dan Urgensi Penelitian
Berdasar latarbelakang masalah dan rumusan masalah di atas dapat dikemukakan tujuan penelitian ini ,yakni :
1. Mengetahui term komunikasi verbal dalam al-Qur’an.
2. Mengetahui konsep komunikasi verbal dalam perspektif al-Qur’an
3. Mengetahui keterkaitan konsep komunikasi verbal dalam al-Qur’an dengan konsep komunikasi verbal dalam perspekif pakar komunikasi
Sebagai Kalam Allah, al-Qur’an memiliki multi dimensi pembahasan dan multi manfaat. Diturunkan kepada umat manusia sebagai rahmat dan hidayat. Untuk memperoleh petunjuk dan pelajaran dari kitab Suci ini, konsep-konsep yang dikandungnya harus dijabarkan dan dioperasionalkan agar lebih mudah dicerna, dipahami, dan diamalkan dalam berbagai tingkat serta latar belakang sosiokultural.
Selain itu, penelitian dilakukan untuk memperoleh rahmat, petunjuk, dan pelajaran dari al-Qur’an terutama tentang know how berkomunikasi secara verbal. Upaya ini bertujuan menggali konsep terkandung agar dijabarkan, untuk dioperasionalkan kemudian, terutama oleh guru agama dan para mubalig.
Dengan komunikasi verbal yang efektif, pembelajaran lebih komunikatif , sehingga mampu menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa, dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran .
Demikian pula halnya dengan para mubaligh, diharapkan mampu mengoptimalkan efektifitas pelaksanaan tugas mulia yakni berdakwah, terutama dalam dakwah billisan. Inilah sesungguhnya urgensi pembahasan tentang komunikasi verbal dalam perspektif al-Qur’an.

D. Metode Penelitian
1. Sumber Penelitian
Penelitian ini bercorak library research, dalam arti semua sumber data berasal dari bahan-bahan tertulis yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Karena studi ini menyangkut al-Qur’an secara langsung, maka sumber utama dan pertama adalah Kitab Suci Al-Qur’an.
Sumber-sumber lainnya adalah kitab-kitab Tafsir yang dibatasi pada kitab-kitab yang dipandang representatif dan tersedia, yaitu: Tafsir al-Qur’an al-hakim (Tafsir al-Manar) karangan Muhammad Rasyid Rida yang termasuk kategori tafsir bi al-ra’yi; Tafsir al-Qur’an al-Adzim karangan Isma’il Ibnu al-Katsir al Quraishi al-Dimashqi yang lebih dikenal dengan Ibnu Katsir ; dan Tafsir Al-Wadhih Mahmud Hijazi;
Dengan menyebut nama kitab-kitab di atas, bukan berarti mengabaikan kitab tafsir lainnya, melainkan juga akan terus dilacak dan digunakan sebagai sumber rujukan, khususnya dalam melengkapi dan lebih mempertajam analisis serta bahasan penelitian yang diproyeksikan menjadi disertasi jika memungkinkan.
Sebagai dasar rujukan untuk menganalisis makna kata-kata dan term-term tertentu dari ayat-ayat al-Qur’an, digunakan al-Mufradat fi al-Gharib al-Qur’an karangan Abu Qasim al-Husayn Ibn Muhammad al-Raghib al-Asfahani (wafat 502H). Kitab ini pada umumnya menjadi rujukan para penafsir al-Qur’an ketika membahas makna kata-kata dalam ayat-ayat al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa pengarangnya diakui kepakarannya dalam bahasa al-Qur’an. Agar pembahasan mengenai kata-kata dan term-term dalam al-Qur’an lebih lengkap, maka kamus-kamus besar juga digunakan khususnya Lisan al-Arab karangan Ibnu Manzur al-Anshari (1232-1311 M.)
Guna memudahkan pelacakan ayat-ayat al-Qur’an yang diperlukan dalam membahas topik-topik tertentu, maka buku al-Mu’jam al-Mufahras li alfadz al-Qur’an al-Karim susunan Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi’ dijadikan sebagai pegangan.
2. Metode Pendekatan dan Analisis pendekatan ilmu tafsir,yang memiliki beberapa corak atau metode penafsiran al-Qur’an dan masing-masing memiliki ciri khas.
Menurut al-Farmawi hingga kini setidak-tidaknya terdapat empat macam metode utama dalam penafsiran al-Qur’an, yaitu: metode tahlili, metode ijmali, metode muqarin, dan metode maudu’i.
Metode penelitian ini adalah metode Maudu’i, artinya metode tafsir yang berusaha mencari jawaban al qur’an tentang suatu masalah dengan jalan menghimpun seluruh ayat yang dimaksud, lalu menganalisis lewat-ilmu-ilmu bantu yang relevan , untuk kemudian melahirkan konsep yang utuh dari al-Qur’an tentang masalah tersebut
Alasan penggunaan metode Maudu’i dalam penelitian ini, karena menurut penulis metoda inilah yang paling tepat untuk digunakan mengkaji konsep-konsep al-Qur’an tentang komunikasi verbal. Hal ini dilakukan dengan menghimpun seluruh ayat yang mengandung kata atau menunjukkan kegiatan komunikasi verbal, seperti Qaul, Kalam, Mau’idhah, dan Taushiyah. Setelah itu dilakukan analisis dengan menggunakan ilmu-ilmu bantu yang relevan dengan masalah komunikasi verbal seperti ilmu komunikasi, teknik presentasi efektif atau public speaking methode. Dari upaya ini diharapkan dapat melahirkan konsep yang utuh tentang komunikasi verbal perspektif al-Qur’an yang komprehensif dan aplicable.
4. Langkah-langkah penelitian
Langkah pertama adalah identifikasi ayat yang memiliki bentuk-bentuk pengungkapan istilah “komunikasi verbal” dalam al-Qur’an, baik term Qaul atau term lain yang sepadan seperti Kalam, Taushiyah atau mau’idhah.
Langkah ke dua pemaparan pandangan para pakar ilmu komunikasi tentang teori-teori komunikasi verbal
Langkah ke tiga adalah memaparkan penafsiran para mufasir tentang tafsir ayat yang memiliki term qaul, kalam maupun mau’idhah.
Langkah ke empat analisis dengan membandingkan pandangan para mufasir dengan teori berbicara dalam perspekif para pakar dalam ilmu komunikasi terutama menyangkut komunikasi verbal seperti public speaking maupun presentasi efektif.
. Langkah ke lima adalah mengemukakan kesimpulan dari seluruh bahasan sebalumnya dan sekaligus menjawab permasalahan pokok yang dikemukakan di atas. Di sini akan terjawablah seluruh permasalahan yang berkaitan dengan bagaimana konsep komunikasi verbal dalam al-Qur’an.
.
E. Kerangka Teori
1. Komunikasi
Secara etimologis, komunikasi merupakan terjemahan dari communication yang mula-mula berkembang di Amerika. Secara terminologis menurut Webster New Dictionary sebagaimana dikutip oleh Sri Haryani komunikasi dapat diterjemahkan:”The art of expressing ideas especially in speech and writting.” , atau dengan kata lain, seni mengekpresikan ide-ide baik melalui lisan maupun tulisan.
Terminologi lain dikemukakan oleh Hovland seperti yang dikutip Efendi : “Communication is the process by which an individual as communicator transmits stimuli to modify the behavior of other individuals” , komunikasi merupakan suatu proses dimana seorang komunikator mengirimkan stimuli untuk mengubah perilaku dari orang lain atau komunikan

2. Komunikasi Verbal
Secara garis besar bentuk komunikasi ada dua macam, yakni komunkasi non verbal dan komunkasi verbal. Komunikasi non verbal adalah kumpulan isyarat, gerak tubuh, intonasi suara, sikap dan sebagainya yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi tanpa menggunakan kata-kata .
Komunikasi non verbal memiliki berbagai perbedaan dengan komunikasi verbal. Salah satunya, tidak mempunyai struktur yang jelas, sehingga relatif lebih sulit untuk dipelajari. Disamping itu intensitas terjadinya komunikasi non verbal juga tidak dapat diperkirakan dan bersifat spontanitas. Namun demikian dalam praktiknya banyak digunakan karena mempunyai beberapa manfaat, setidaknya memperjelas apa yang disampaikan secara verbal, di samping dapat menguatkan.
Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol yang mempunyai makna dan berlaku umum , seperti suara, tulisan, atau gambar. Dari sini dapat disimpulkan bahwa dalam komunikasi ini tidak hanya menyangkut komunikasi lisan saja, tetapi juga komunikasi tertulis. Bahasa merupakan simbol atau lambang yang paling banyak digunakan. Mengapa demikian? Karena bahasa dapat mewakili banyak fakta, fenomena, dan bahkan sesuatu yang bersifat abstrak yang ada di sekitar manusia. Oleh karena itu dalam komunikasi bahasa inilah yang banyak digunakan oleh masyarakat.
Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas.
Bahasa Verbal merupakan sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, maksud, serta tujuan. Hal tersebut dilakukan dengan menggunakan kata-kata untuk merepresentasikan berbagai aspek realitas individual.

3. Indikator Komunikasi Verbal Efektif
Seseorang yang piawai dalam melakukan komunikasi verbal lazim disebut dengan komunikator efektif. Berdasar teori yang ada, seorang komunikator baru disebut efektif jika memiliki indikator: Cradibility, Capability, Clarity, Symphaty dan Enthusiasity.

a. Credibility
Credibility maksudnya citra diri. Hal ini berkaitan dengan prestasi, spesifikasi keilmuan, kompetensi, pengalaman dalam bidang yang ditekuni, nama baik, jasa-jasa dalam bidang tertentu, temuan, popularitas, serta dedikasinya terhadap profesi ang ditekuni.
Bagi pembicara yang belum banyak dikenal audience, atau karena jam terbang masih terbatas, MC atau moderator perlu memperkenalkan/ membacakan curriculum vitaenya. Pengenalan ini perlu, karena mustami’ akan lebih mengenal pembicara sehingga lebih appreciate dan tergerak untuk mendengarkan ceramahnya. Pada saat inilah, audience diam-diam mempertimbangkan, akan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, ala kadarnya, atau tidak usah sama sekali.
Membangun kredibilitas atau citra diri berarti membangun kesuksesan penampilan. Tingkat kesuksesan pembicara sangat relatif, tetapi setidak-tidaknya ada tiga kawasan, yang dapat dijadikan tolok ukur: yakni kawasan teknologi, kawasan akademik dan kawasan humanistik. Kredibilitas sang pembicara dalam pandangan Audience dibangun berdasarkan kesan yang diperoleh melalui penampilan sang pembicara ditinjau dari ketiga kawasan tersebut di atas. Di samping itu, kredibilitas juga dapat dibangun berdasarkan informasi tentang pembicara yang diperoleh audience baik dari MC / moderator maupun dari sesama audience.

b. Capability
Seorang pembicara efektif dituntut memiliki kecakapan atau kemampuan memadai. Tidak harus pintar sekali memang, tetapi memadai cukup dalam beberapa hal Di antaranya :
1). Kecakapan mengemukakan pikiran secara singkat, jelas, tetapi padat. Sehingga dapat meyakinkan audience dengan mudah. Untuk membina kecakapan ini, perlu melakukan beberapa upaya antara lain, membuat persiapan yang matang dan mengemas materi pembicaraan secara sistematis, runtut, dan logis.
2). Kecakapan mempertahankan pikiran atau pendapat, dalam forum pertemuan yang bersifat dialogis atau komunikasi dua arah seperti dalam diskusi atau seminar.
3). Kemampuan mengkoordinasikan dan mengkombinasikan secara tepat komuniksi verbal dan non verbal.

c. Clarity.
Clarity dapat dideskripsikan sebagai kejelasan dan ketepatan ucapan. Penerapan komunikasi verbal banyak bertumpu pada clarity. Sebagai komunikator, seorang pembicara handal dituntut mampu mengkomunikasikan pesan atau formasi kepada audience. Vokal sebagai media pengungkapan ekspresi merupakan media penyampaian informasi melalui pengucapan.
Sampai atau tidaknya penyampaian pesan dari seorang pembicara, banyak ditentukan oleh keterampilan penguasaan teknik vokalnya. Keterampilan tersebut sangat dipengaruhi tingkat kejelasan penyampaian materi atau pesan.

d. Sympathy
Penampilan simpatik seorang Pembicara merupakan buah dari perpaduan serasi antara ketulusan, kesabaran dan kegembiraan Pembicara yang mampu tampil simpatik sepanjang ceramahnya akan merasa puas dan memuaskan audience . Materi pembicaraan disampaikan dengan cara simpatik, sehingga diikuti dengan penuh antusias dan akhirnya dapat dipahami dengan jelas. Sementara pembicara mendapatkan kepuasan bathiniah, karena melihat wajah-wajah yang penuh antusiasme dan puas dengan apa yang didapatkan darinya.
Indikator penampilan simpatik seorang pembicara dapat dideteksi melalui intensitas senyum, kontak mata, keramahan sikap, keterbukaan penampilan, serta keceriaan wajah. Bagi pembicara yang memiliki open face, tidak terlalu sulit baginya untuk bersikap simpatik. Tetapi seorang pembicara yang termasuk kategori neutral face memerlukan usaha, dan bagi pemilik Close Face dituntut kerja keras dalam berlatih.

e. Enthusiasity.
Orang Indonesia menyebut istilah di atas dengan antusiasme Audience cenderung lebih menyenangi pembicara yang tampil antusias, yang tercermin dari semangat tinggi, gerak lincah, penampilan energik, stamina yang fit, wajah berseri-seri. Audience tidak menyukai pembicara yang tampil tanpa antusiasme, misalnya , terlihat loyo, lesu, letih, letoy dan lemas. Apalagi wajahnya melankolis, mengesankan sendu, sedih, nampak tertekan, tidak berbahagia atau tampil terpaksa.
Untuk dapat tampil antusias atau gairah tinggi, seorang pembicara harus memiliki fisik sehat serta hati yang gembira. Sulit rasanya membayangkan seorang pembicara yang sedang tidak enak badan atau sakit, dapat tampil prima penuh antusiasme. Jangankan dalam keadaan sakit, dalam keadaan sehat pasca sakit pun seorang pembicara masih membutuhkan proses adaptasi, sebelum dapat tampil energik penuh antusiasme.
Dalam keadaan sehat, pembicara memiliki peluang tampil antusias, karena tampak fit, fresh, segar, tegar, bugar, lincah, bergerak, penuh aksi, ringan tubuh, dan luwes. Semua ini dapat memancing antusiasme audience untuk mengikuti ceramah . Meskipun menyenangi pembicara yang antusias dan lincah, namun demikian audience tidak menyenangi sikap yang berlebihan , terlebih jika sikap tersebut mengarah kepada kesan kenes, genit, sombong dan over acting.
Efektifitas komunikasi verbal sangat ditentukan oleh kelima hal di atas. Siapapun orangnya, jika menguasai kelima hal tersebut niscaya akan mampu menjadi pembicara handal, karena memiliki daya pikat untuk memukau audience.

F. Telaah Pustaka
Telaah pustaka berikut untuk mendisplay karya terdahulu yang terkait atau diduga memiliki kaitan dengan topik yang akan dibahas. Hal ini diproyeksikan untuk memperoleh kepastian orisinilitas serta jaminan tidak adanya duplikasi dengan penulisan atau penelitian terdahulu. Diakui ada beberapa tulisan atau penelitian terdahulu yang membahas tentang persoalan komunikasi atau pandangan al-Qur’an tetapi bukan pandangan al-Qur’an tentang komunikasi verbal.
Sepanjang penelaahan penulis, belum ada penelitian ilmiah yang secara spesifik mengkaji masalah komunikas verbal dalam perspektif al-Qur’an, dan penulis memanfaatkan celah tersebut. Tulisan Prof. Toshihiko Izutsu yang berjudul Ethica Religious Concepts in the Qur’an (1966) merupakan revisi dari dari buku Izutsu sebelumnya yang berjudul The Structure of the Ethical Terms in the Qur’an (1959). Dari judul tersebut tergambar bahwa kajian Izutsu difokuskan pada pada pembahasn mengenahi konsep-konsep etika agama (Islam) secara umum dalam al-Qur’an.
Muhammad Jarot Sensa (2005) dalam karyanya Komunikasi Qur’aniyah: Tadzabbur untuk pensucian jiwa, tidak membahas masalah komunikasi verbal dalam al-Qur’an, melainkan membahas persoalan dimensi al-Qur’an, fungsi al-Qur’an, metode memahami al-Qur’an, pengaruh yang ditimbulkan al-Qur’an, Nabi Muhammad sebagai komunikator Qur’aniyah, serta aktivitas komunikasi pensucian.
Melihat judul buku ini sepintas kilas penulis menduga akan memperolah banyak informasi terkait karena kemiripan judul. Setelah mencermati isi buku secara keseluruhan, rupanya penulis salah duga karena isinya jauh panggang dari api.
A.Muis (2001) Komunikasi Islami. Prof. DR. Andi Abdul Muis, SH.dalam buku tersebut membahas masalah dakwah di era global; Komunikasi dakwah dan visi media; Dakwah Islam dan wawasan kebangsaan; Dakwah Islam dan kekuasaan politik; Dakwah Islam dan budaya masyarakat. Lembaga dakwah dan cendikiawan muslim masa depan. Meskipun buku tersebut membahas masalah komunikasi, tetapi tidak menyentuh persoalan komunikasi verbal dalam al-Qur’an
Jalaluddin Rahmat (1996) dalam karyanya Psikologi Komunikasi membahas Karakteristik manusia komunikan; Sistem komunikasi intrapersonal; Sistem Komunikasi interpersonal; Sistem komunikasi kelompok dan sistem komunikasi massa. Buku tersebut juga membahas persolan komunkasi, tetapi juga tidak menyentuh persoalan komunikasi verbal dalam perspektif al-Qur’an
Harifuddin Cawidu (1991) telah menulis Konsep Kufr dalam al-Qur’an: Suatu kajian teologis dengan pendekatan tafsir tematik. Dalam disertasi yang diterbitkan oleh Bulan Bintang tersebut dipaparkan Bentuk-bentuk pengungkapan kufr dalam al-Qur’an dan sebab-sebab kekufuran; Jenis-jenuis kufr dan karakteristiknya; Akibat-akibat kufr dan sikap terhadap orang-orang kafir. Dalam buku tersebut, meskipun membahas muatan al-Qur’an, tetapi idak membahas persolan komunikasi verbal
Mencermati karya-karya di atas, tidak terlihat adanya duplikasi, meski terdapat kesamaan kosakata sepeti istilah komunikasi, atau al-Qur’an, tetapi sudut pandang maupun fokusnya berbeda jauh.

G. Sistematika Pembahasan
Untuk merampungkan pemecahan masalah dalam penelitian ini dapat diberikan gambaran sistematika pembahasan yang terdiri dari dari bab-bab yang saling berkaitan dan saling menunjang.
Pada Bab I Pendahuluan, dikemukakan latar belakang masalah; Rumusan masalah; Tujuan pembahasan; Metode pembahasan; Kerangka teori; Telaah pustaka; dan Sistematika pembahasan:
Pada Bab II Dasar-dasar Konseptual Komunikasi Verbal,akan dikemukakan : Definisi Komunikasi Verbal; Urgensi Komunikasi Verbal; Komunikasi Verbal yang Efektif ; Penunjang dan Hambatan Komunikasi Verbal.
Pada Bab III Komunikasi Verbal Dalam Perspektif al-Qur’an : Qaulan Layina;
Qaulan Maisura; Qaulan Karima; Qaulan Baligha; Qaulan Ma’ruufa; Qaulan Sadiida; Istilah lain;
Bab IV Konsep Komunikasi Verbal Efektif Berbasis Al-Qur’an: al-Muru’ah; al-Kafa’ah; an-Nasyat al-Hayawi; al-Dharif; al-Wudhuh
Bab V. Kesimpulan dan Penutup

G. Hasil Penelitian
1. Identifikasi ayat al-Qur’an tentang komunikasi verbal
Setelah dilakukan penelusuran berdasar etimologi, maka dapat diidentifikasi istilah yang mengandung makna komunikasi verbal, baik secara denotatif maupun konotatif. Yang termasuk kategori denotatif adalah:
a. Qaulan Baligha ( QS. an-Nisa’: 63)
b. Qaulan Layina ( QS. Thaha: 44)
c. Qaulan Ma’rufa ( QS. Al-Baqarah: 235; QS. An- Nisa’: 5& 8; QS. Al-Ahzab: 32)
d. Qaulan Maisura ( QS. Al-Isra’: 28 )
e. Qaulan Karima ( QS. Al-Isra’: 23)
Sedang yang termasuk kategori konotatif adalah:
a. Mau’idhah ( an-Nisa’: 66)
b. Da’wah: (an- Nahl :125; Yusuf:108)
c. Nashihah ( at-Taubah: 91; al-A’raf: 21, 62,68,79,93; Hud:34; Yusuf:11; Qashas:12)
d. Taushiyah ( al-Ashr: 3)

2. Komunikasi Verbal Dalam Perspektif al-Qur’an
Dalam paparan singkat tentang hasil penelitian ini hanya akan dipaparkan satu butir dari denotatif saja yakni Qaulan Layyina. Istilah Qaulan Layyina terdapa dalam al-Qur’an Surah Thaha ayat 44 :
إذ هبا إلى فرعون إنه طغى فقولا قولا لينا لعله يتذكرون أويخشى
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut (QS. Thaha: 44).
Ayat ini memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk pergi menemui Fir’aun yang telah melampaui batas dengan menindas secara kejam Bani Israil. Dalam Tafsir Ibnu Katsir diperjelas dengan uraian: pergilah kamu berdua kepadanya dan berbicaralah dengan kata-kata yang lemah lembut, serta bersikaplah simpatik dan bersahabat padanya. Cobalah sadarkan dia tentang dirinya sendiri yang tak kurang dan tak lebih hanyalah seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku. Dan janganlah kamu berdua lalai, selalu ingatlah kepada-Ku dan menyebut nama-Ku selagi kamu menjalankan tugas suci ini. Dan dengan membawa kecakapanmu menyampaikan keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan hujjah-hujjah yang tidak dapat dibantah, mudah-mudahan dia (Fir’aun) menyadari akan dirinya dan takut kepada-Ku.
Di dalam Tafsir Al-Qurtubi dijelaskan bahwa ayat ini merekomendasikan untuk memberi peringatan dan melarang sesuatu yang munkar dengan cara yang simpatik melalui ungkapan atau kata-kata yang baik dan hendaknya hal itu dilakukan dengan menggunakan perkataan yang lemah lembut, lebih-lebih jika hal itu dilakukan terhadap penguasa atau orang-orang yang berpangkat. Bukankah Allah sendiri telah memperingatkan dalam firmannya: Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut.
Al-Qurtubi menjelaskan lebih lanjut makna lemah lembut yaitu kata-kata yang tidak kasar, dikatakannya bahwa segala sesuatu yang lembut akan melembutkan dan segala sesuatu yang lembut lagi melembutkan, ringan untuk dilakukan. Kalaupun Musa diperintahkan untuk berkata-kata yang lembut, maka hal itu merupakan keleluasaan bagi orang lain (Fir’aun) untuk mengikuti jejak, meniru dari apa yang dikatakannya dan yang diperintahkannya kepada mereka untuk berkata-kata yang baik. Dan hal itu telah difirmankan Allah: Dan katakanlah kepada manusia dengan perkataan yang baik.
Dalam Tafsir Al-Maraghi dijelaskan metode yang harus diterapkan dalam berdakwah, yaitu: Berbicaralah kalian kepada Fir’aun dengan pembicaraan yang simpatik dan lemah lembut, agar lebih dapat menyentuh hati, untuk mengundang empati, sehingga dapat lebih menariknya untuk menerima dakwah. Dengan sikap simpatik dan perkataan yang lemah lembut, hati orang-oang yang durhaka akan menjadi halus dan kekuatan orang-orang yang sombong akan luluh. Oleh sebab itu, datang perintah yang serupa kepada Nabi Muhammad saw:
إدع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هيىاحسن.
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (An-Nahl 16: 125)

Contoh lain perkataan lemah lembut ialah perkataan Musa kepada Fir’aun:
هل لك إلى أن تزكى واهديك إلىربك فتخشى
Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan) dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepadanya (An Nazi’at, 79:18-19)
Selanjutnya Allah mengemukakan alasan, mengapa Musa diperintahkan untuk berkata lemah lembut:
لعله يتذكر أويخشى
Bahwa kata la’alla (mudah-mudahan) dalam kalimat ini menunjukkan tercapainya maksud sesudah kata itu. Yakni, perintah untuk menjalankan risalah, mengajarkan atas apa yang diperintahkan Allah dan berusaha untuk mengerjakan seperti halnya orang lain mengerjakan atau bahkan lebih.
Dari beberapa uraian di atas dapat diartikan, makna qoulan layina yaitu kata-kata yang lembut yang disampaikan secara simpatik sehingga dapat menyentuh hati, meninggalkan kesan mendalam, sehinga menarik perhatian orang untuk menerima dakwah. Kata-kata yang lembut menyebabkan orang-orang yang durhaka akan menjadi halus dan kekuatan orang yang sombong menjadi luluh. Untuk itulah kata lembut tidak berarti kata-kata yang lemah, karena dalam kelembutan tersebut tersimpan kekuatan yang dahsyat yang melebihi kata-kata yang diungkapkan secara lantang dan kasar, terlebih jika disertai sikap yang tidak bersahabat, justru akan mendatangkan sikap antipati dan memusuhi.
Kata yang lembut mengandung keindahan. Indah untuk didengarkan dan untuk disampaikan serta mudah k dicerna siapa pun. Oleh karenanya dalam berdakwah, kata-kata yang lembut hendaknya lebih diutamakan, sehingga orang yang mendengarkannya tidak merasa terganggu , bahkan justru tumbuh rasa simpati, empati untuk selalu mendengarkannya kata demi kata, bahkan menjadikannya suatu prinsip hidup.
Sikap simpatik yang tercermin pada kehalusan sikap dan kelembutan kata, mutlak diperlukan untuk menjamin efektifitas komunikasi verbal dan optimalisasi hasil.
Al-dharief yang disebut khafifuddam oleh orang Mesir merupakan padanan istilah Barat symphatety dan di Indonesia disebut simpati atau penampilan yang simpatik. Hal tersebut merupakan buah dari perpaduan serasi antara al-ittishalatul lisaniyah (komunikasi verbal) dan al-ittishalatul isyarah (komunikasi non verbal).
Keharusan kerja keras untuk berlatih juga berlaku bagi da’i yang memiliki kecenderungan untuk berpenampilan over estimate maupun under estimate. Untuk dapat tampil simpatik, kedua kecenderungan tersebut harus didekonstruksi terlebih dahulu sampai mencapai titik netral, baru direkonstruksi menjadi sebuah penampilan yang simpatik.
Jika seorang pembicara mampu tampil simpatik di depan mustami’, semua tutur katanya akan diikuti dengan seksama. Tidak ada satu kata pun yang terlewatkan untuk diikuti oleh mustami’, apalagi satu kalimat, atau terlebih lagi satu paragraf. Semuanya akan dicermati dengan sepenuh hati, karena tersentuh penampilan pembicara yang simpatik. Akhirnya, hati pun tergerak untuk menggerakkan semua anggota tubuh agar melaksanakan ‘apapun’ yang disampaikan oleh sang da’i.
Inilah yang disebut dengan komunkasi verbal yang efektif. Yakni apa yang disampaikan pembicara, dapat diterima mustami’ sesuai dengan apa yang dimaksud oleh pembicara. Jika pembicara bermaksud menanamkan pemahaman tentang suatu konsep, dan konsep tersebut dapat dipahami oleh mustami’ sesuai dengan yang dimaksudkan, proses da’wah tersebut dapat disebut efektif. Jika pembicara bermaksud menggerakkan mustami’ untuk melakukan suatu tindakan selaras dengan ketentuan Allah, dan para mustami’ benar-benar melakukannya, maka komunikasi verbal tersebut dapat dikatakan efektif. Efektifitas komunikasi verbal sangat dipengaruhi oleh kadar simpati pembicara.
Para guru agama atau da’i seharusnya dapat tampil simpatik dan berbicara lembut, karena sebenarnya merupakan ‘bintang iklan’ risalah, yang memiliki otorita untuk menyampaikan berbagai informasi dengan muatan value yang bersumber dari Allah maupun Rasulullah. Jika para guru agama atau para da’i tidak mampu bersikap simpatik atau bertutur dengan lembut, akan kontra produktif bagi penyebaran risalah Allah.

Daftar Pustaka

‘Abd a-Hay al-Farmawi,1977, al-Bidayah fi al-Tafsir, al-Maudhu’i, al –Matma’at al-Hadarat al –Arabiyat, Cet ke-2.
Ahmad Al-Ansori al-Qurtubi,Ibnu, Al-Jami’ul Ahkam Al-Qur’an, Darul Hud, juz V.
Baidan, Nahruddin, 2000, Rekonstruksu Ilmu Tafsir, Yogyakarta, Dana Bakti Primayasa.
Bovee L.Courland, dan John V. Thill, 1995, Bussines Communication Today, Fourth Edition, New York: McGraw-Hill, Inc.,
Cawidu, Harifudin, 1991, Konsep Kufr dalam Al-Qur’an: Suatu Kajian Teologis dengan pendekatan tafsir tematik, Jakarta: Bulan Bintang
Efendi U.Onong, 1981, Dimensi-dimensi Komunikasi, Bandung, Alumni
George L. Grice, 1993, Mastering Public Speaking, Masachussetts: Simon Company
Glann,Ethel C. 1990, Public Speaking Today and Tomorrow, New Jersy: Prantice Hall Inc.
Haryani, Sri, 2001, Komunikasi Bisnis, Yogyakarta, UUP AMP YKPN,
Husin al-dzahabi,M., 1962, al-Tafsir wa al-Mufassirun, I, Kairo, Dar al kutub al-haditsat
Katsir, Ibnu, Tafsir Ibnu Katsir, Terjemah dan Tafsir, terjemahan Salim Bahreisy, Said Bahreisy, PT. Bina Ilmu, 1990.
Khalil,Komaruddin, 2005, Kiat Sukses Menjadi Pembicara yang Mengugah dan Mengubah, Bandung : MQS Publishing
Nasr, SH, 1972, Ideals and Realies of Islam, London, George Allen & Unwin Ltd.,

Jalaluddin Rahmat (1996) dalam karyanya Psikologi Komunikasi membahas Karakteristik manusia komunikan; Sistem komunikasi intrapersonal; Sistem Komunikasi interpersonal; Sistem komunikasi kelompok dan sistem komunikasi massa. Buku tersebut juga membahas persolan komunkasi, tetapi juga tidak menyentuh persoalan komunikasi verbal dalam perspektif al-Qur’an
Harifuddin Cawidu (1991) telah menulis Konsep Kufr dalam al-Qur’an: Suatu kajian teologis dengan pendekatan tafsir tematik. Dalam disertasi yang diterbitkan oleh Bulan Bintang tersebut dipaparkan Bentuk-bentuk pengungkapan kufr dalam al-Qur’an dan sebab-sebab kekufuran; Jenis-jenuis kufr dan karakteristiknya; Akibat-akibat kufr dan sikap terhadap orang-orang kafir. Dalam buku tersebut, meskipun membahas muatan al-Qur’an, tetapi idak membahas persolan komunikasi verbal
Mencermati karya-karya diatas maka tidak terlihat adanya duplikasi, meski terdapat kesamaan kosakata sepeti istilah komunikasi, atau al-Qur’an, tetapi sudut pandang maupun fokusnya berbeda jauh.

G. Sistematika Pembahasan
Untuk merampungkan pemecahan masalah dalam penelitian ini dapat diberikan gambaran sistematika pembahasan yang terdiri dari dari bab-bab yang saling berkaitan dan saling menunjang.
Pada Bab I Pendahuluan, akan dikemukakan latar belakang masalah; Rumusan masalah; Tujuan pembahasan; Metode pembahasan; Kerangka teori; Telaah pustaka; dan Sistematika pembahasan:
Pada Bab II Dasar-dasar Konseptual Komunikasi Verbal, akan dipaparkan: Definisi Komunikasi Verbal; Urgensi Komunikasi Verbal; Komunikasi Verbal yang Efektif ; Penunjang dan Hambatan Komunikasi Verbal.
Pada Bab III Komunikasi Verbal Dalam Perspektif al-Qur’an : Qaulan Layina;
Qaulan Maisura; Qaulan Karima; Qaulan Baligha; Qaulan Ma’ruufa; Qaulan Sadiida; Istilah lain;
Bab IV Konsep Komunikasi Verbal Efektif Berbasis Al-Qur’an: al-Muru’ah; al-Kafa’ah; an-Nasyat al-Hayawi; al-Dharif; al-Wudhuh
Bab V. Kesimpulan dan Penutup

Daftar Pustaka
‘Abd a-Hay al-Farmawi,1977, al-Bidayah fi al-Tafsir, al-Maudhu’i, al –Matma’at al-Hadarat al –Arabiyat, Cet ke-2.
Ahmad Al-Ansori al-Qurtubi,Ibnu, Al-Jami’ul Ahkam Al-Qur’an, Darul Hud, juz V.
Baidan, Nahruddin, 2000, Rekonstruksu Ilmu Tafsir, Yogyakarta, Dana Bakti Primayasa.
Bovee L.Courland, dan John V. Thill, 1995, Bussines Communication Today, Fourth Edition, New York: McGraw-Hill, Inc.,
Cawidu, Harifudin, 1991, Konsep Kufr dalam Al-Qur’an: Suatu Kajian Teologis dengan pendekatan tafsir tematik, Jakarta: Bulan Bintang
Efendi U.Onong, 1981, Dimensi-dimensi Komunikasi, Bandung, Alumni
George L. Grice, 1993, Mastering Public Speaking, Masachussetts: Simon Company
Glann,Ethel C. 1990, Public Speaking Today and Tomorrow, New Jersy: Prantice Hall Inc.
Haryani, Sri, 2001, Komunikasi Bisnis, Yogyakarta, UUP AMP YKPN,
Husin al-dzahabi,M., 1962, al-Tafsir wa al-Mufassirun, I, Kairo, Dar al kutub al-haditsat
Katsir, Ibnu, Tafsir Ibnu Katsir, Terjemah dan Tafsir, terjemahan Salim Bahreisy, Said Bahreisy, PT. Bina Ilmu, 1990.
Khalil,Komaruddin, 2005, Kiat Sukses Menjadi Pembicara yang Mengugah dan Mengubah, Bandung : MQS Publishing
Nasr, SH, 1972, Ideals and Realies of Islam, London, George Allen & Unwin Ltd.,

2. QAULAN MAISURAN
SURAH AL-ISRO’ 28

وإما تعرضن عنهم ابتغاء رحمة من ربك ترجوها فقل لهم قولا ميسور (الاسراء:28)
Dan jika kamu tidak tega menolak permintaan mereka, karena masih menantikan rahmat Tuhamu yang kamu harapkan kedatangannya, ucapkan sajalah kepada mereka ucapan yang menyenangkan hatinya.

Dalam Tafsir Adz-Dzikra, Bahtiar Amin menafsirkan, jika kamu sedang dalam kekurangan, sedang untuk menolak mereka orang-orang miskin itu tidak pula sampai hati, sementara kamu ada harapan baik akan mendapatkan rezeki yang lumayan, maka cara menolaknya itu hendaknya mempergunakan perkataan yang lemah lembut (Amin, Bahtiar: juz 11-15 hlm; 1156)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir diterangkan, hendaknya seorang hamba untuk selalu berbuat baik terhadap keluarga dekatnya, dengan memberikan haknya, demikian pula kepada orang-orang miskin yang mengadakan perjalanan. Dan kemudian lebih lanjut difirmankan, jika hamba itu berpaling dari kerabatnya yang dekat dan tidak memberikan apa-apa karena tidak ada yang dapat diberikan, maka hendaklah mengatakan kepada mereka dengan kata-kata dan ucapan-ucapan yang pantas, halus dan lembut, serta hendaknya memberi janji kepada mereka, bahwa sewaktu-waktu datang rezeki Allah, mereka akan memperoleh apa yang mereka harapkan. (Ibnu Katsir: 35)
Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menjelaskan betapa halus dan bagus bunyi ayat ini, yaitu untuk orang dermawan berhati mulia dan sudi menolong orang yang perlu. Tetapi apa boleh buat, di waktu itu tidak ada padanya yang akan diberikan. Maka disebutkanlah dalam ayat ini, jika engkau terpaksa berpaling dari mereka, artinya berpaling karena tidak sampai hati melihat orang yang sedang perlu kepada pertolongan itu, sedangkan kita yang dimintai pertolongan dalam keadaan kering. Dalam hati kecil sendiri ktia berkata, bahwa nanti di lain waktu, kalau rezeki ada, rahmat Tuhan turun, orang ini akan saya tolong juga. Maka ketika menyuruh pulang dengan tangan hampa itu, berilah dia pengharapan dengan kata-kata yang menyenangkan. Karena kadang-kadang kata-kata yang halus da berbudi lagi membuat orang senang dan lega, lebih berharga daripada uang berbilang.
Menurut kitab-kitab tafsir, ayat ini turun langsung untuk Nabi Muhammad di waktu beliau pada suatu ketika membiarkan orang meminta tolong, pulang dengan tangan kosong. Sejak itu kalau terjadi demikian, beliau lepaskan orang tersebut dengan ungkapan:
يرزقنا الله وإياكم من فضله
“Diberi rezeki Allah kiranya kami dan kamu dari karunia-Nya.”

Tersebut dalam pendidikan kesopanan Islam, bahwasanya muka jernih saja sudah sama dengan pemberian derma. Hati orang yang susah, meskipun maksudnya belum berhasil, akan lega juga melihat bahwa orang tempatnya meminta itu tidak bermuka kerut menghadapinya. Melainkan membayangkan kesedihan hati, karena tidak dapat memberi di saat itu. (Hamka, 1982:50)
Dalam Tafsir Al-Maraghi, dijelaskan bahwa sudah menjadi kebiasaan orang Arab, mereka mengumpulkan harta dari rampasan, merampok dan menyerang kabilah lain. Kemudian mereka membelanjakan harta itu untuk menghalangi manusia agar jangan masuk Islam dan untuk melemahkan orang-orang yang telah masuk Islam. Maka datanglah ayat tersebut di atas.
Dan lebih lanjut diperjelas: dan jika kamu tidak bisa memberikan apa-apa kepada keluarga-keluarga dekat, orng-orang miskin maupun musafir, sedang kamu malu untuk menolaknya dan kamu menunggu kejembaran dari Allah yang kamu harapkan bakal datang kepadamu, termasuk rezeki yang melimpah kepadamu, maka katakanlah kepada mereka perkataan yang lunak dan baik, serta janjikanlah kepada mereka janji yang tidak mengecewakan hati.
Al-Hasan mengatakan: diperintahkan agar mengatakan kepada mereka: dengan sangat menyesal dan teriring hormat, bahwa pada hari ini kami pun tak punya apa-apa. Kelak bila ada sesuatu, kami pun akan memberikan hak Anda semua. (Mustafa Al-Maraghi, 69-70)
Dari uraian di atas, menurut hemat penulis, bahwa makna dari qoulan maisuran yaitu kata-kata yang halus, berbudi dan menyenangkan bagi siapa pun yang mendengarkannya. Untuk itulah di dalam ayat tersebut Allah menganjurkan kepada kita hendaknya mengatakan dengan baik, ketika kita menolak permintaan orang lain dalam keadaan kita sendiri pun tidak mempunyai kesanggupan untuk membantu mereka. Karena pada dasarnya kata-kata penolakan yang diungkapkan secara baik dan bijaksana akan memberikan nuansa yang menyenangkan dan membuat lega lagi menyenangkan bagi siapa pun yang menerimanya.
Kata-kata yang menyenangkan akan lebih berharga daripada derma yang berbilang. Kata-kata tersebut akan melapangkan jiwa orang yang ditimpa dalam kesusahan dan dirundung musibah. Untuk itulah dalam ayat ini kita adianjurkan untuk memberi janji kepada mereka bahwa suatu saat jika Allah melapangkan rezeki bagi dirinya akan membantunya. Kata-kata yang demikianlah yang dianjurkan dalam ayat ini, menolak dengan kata yang indah, tanpa harus menyakiti, tetapi sebaliknya membuat tenteram yang bersangkutan.

Daftar Pustaka

Al-Maraghi, Mustafa, Terjemah Tafsir Al-Maraghi juz 15, diterjemahkan oleh Bahrun Abu Bakar dan Herry Noer Aly, CV. Toha Putra, Semarang.

Amin, Bahtiar, Adz-Dzikro, terjemah dan tafsir juz 11-15, Angkasa, Bandung:1156).

Katsir, Ibnu, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, diterjemahkan oleh H. Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Bina Ilmu, 1984.

Hamka, Tafsir Al-Azhar, juz XV, Yayasan Latimojung, Surabaya, 1982, Cet. III.

3. QAULAN KARIMAN
SURAH AL-ISRO’ 23

وقضى ربك الاتعبد إلا إياه وبالوالدين إحسانا، إما يبلغن عندك الكبر أحدهما أوكلاهما فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما (الاسراء:23)
Tuhanmu telah menetapkan, “Jangan menyembah kecuali kepada-Nya, dan berbaktilah kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antaranya atau keduanya sudah usia lanjut, jangan sekali-kali kamu mengucapkan “ah” dan jangan pula membentak mereka. Ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang sopan penuh hormat.

Menurut Ahmad Al-Ansori Al-Qurtubi dalam tafsirnya Al-Jami’ul Ahkam Al-Qurtubi, beliau menafsirkan kata (qoulan karima) yaitu kata atau ungkapan dengan lemah lembut, seperti memanggil kedua orang tua dengan panggilan yang sopan, semisal Ayahanda atau Ibunda, bukan justru sebaliknya memanggil dengan panggilan namanya maupun dengan ungkapan atau perkataan yang semisalnya, baik berupa sindiran atau kiasan. Lebih jauh lagi beliau menjelaskan (qoulan karima) yaitu kata-kata yang santun, sopan dan bukan kata-kata yang kasar seperti halnya kata-kata yang diungkapkan oleh orang-orang jahat. (Al-Qurtubi:159)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa anak/putra dilarang untuk memperdengarkan sesuatu kepada orang tua kata-kata yang kasar dan tidak sopan, bahkan sepatah kata “ah” atau “uh”. Dan dilarang untuk membentak-bentak mereka berdua atau salah seorang di antara mereka, tetapi hendaklah mengucapkan kata-kata yang hormat, sopan, lemah lembut di hadapan mereka. (Ibnu Katsir 1990:31-32).
Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menjelaskan bahwa ayat ini melarang mencedaskan mulut, mengeluh, mengerutkan kening walaupun suara tidak kedengaran. Dijelaskan lebih lanjut dilarang untuk membentak keduanya, menghardik ataupun membelalaki mata. Dan dalam hal ini berlaku Qiyas Aula, yaitu larangan mengeluh apalagi membentak-bentak dan menghardik.
Maka tersebutlah pada sebuah Hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abi Sa’ad Al-Marquby dari Abi Hurairah r.a.:
رغم أنف رجل ذكرت عنده فلم يصل على ورغم أنف رجل أدرك أبويه عنده الكبر اواحدهما فلم يدخلاه الجنة ورغم انف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفرله.
“Hidup sengsara laki-laki disebut orang aku di dekatnya, namun dia tidak mengucapkan shalawat atasku. Hidup sengsara seorang laki-laki yang telah tua, salah seorang ibu-bapaknya atau sekaligus keduanya, namun pemeliharaannya atas keduanya tidak menyebabkan dia masuk surga. Hidup sengsara seorang laki-laki telah masuk bulan Ramadlan (puasa), kemudian bulan itu habis sebelum Allah memberi ampunan akan dia.

Ayat di atas menegaskan perintah untuk berkata kepada orang tua dengan perkataan yang pantas, kata-kata yang mulia, kata-kata yang keluar dari mulut orang yang beradab dan bersopan santun.
Dalam hal ini Imam Athaa’ sampai mengatakan: “sekali-kali jangan sebut nama beliau. Panggil sja “Ayah-Ibu, Abunya-Ummi, Papi-Mami”! Pendeknya segala perkataan yang mengandung rasa cinta kasih. Sehingga tingkat yang mana yang telah dicapai oleh si anak dalam masyarakat, entah dia menjadi presiden, menteri, atauppun duta besar, perlihatkanlah di hadapan ayahmu dan ibumu bahwa engkau anaknya. (Hamka, 42)
Dalam Tafsir Al-Maraghi dijelaskan bahwa makna dari karim yaitu bersikap baik tanpa kekerasan. Ar-Raghib mengatakan: segala sesuatu yang terhormat dalam bangsanya.
Dalam ayat ini Mustafa Al-Maraghi menafsirkan, hendaknya seorang anak memperlakukan beberapa hal terhadap orangtuanya sebagai tanda rasa syukur dirinya atas segala bimbingannya. Maka beliau menganjurkan lima hal sebagai berikut:
Pertama: Jangan kamu jengkel terhadap sesuatu yang kamu lakukan oleh salah satu dari orangtuamu atau oleh kedua-duanya yang menyakitkan hati orang lain, tetapi bersabarlah menghadapi semua itu dari mereka berdua dan mintalah pahala Allah atas hal itu, sebagaimana kedua orang itu pernah bersikap kepadamu.
Kedua: Janganlah kamu menyusahkan keduanya dengan sesuatu perkataan yang membuat mereka berdua merasa tercela. Hal ini merupakan larangan menampakkan perselisihan terhadap mereka berdua dengan perkataan yang disampaikan dengan nada menolak atau mendustakan mereka berdua, di samping ada larangan untuk menampakkan kejemuan, baik sedikit maupun banyak.
Ketiga: Ucapkanlah dengan ucapan yang baik kepada orangtua dan perkataan yang manis, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, sesuai dengan kesopanan yang baik, dan sesuai dengan tuntutan kepribadian yang luhur. Seperti ucapan: Wahai ayahanda, Wahai Ibunda. Dan janganlah kamu memanggil orangtua dengan nama mereka, jangan pula kamu meninggikan suaramu di hadapan orangtua, apalagi kamu memelototkan matamu terhadap mereka berdua. Menurut Ibnu ‘I-Musayyab, perkataan mulia yaitu seperti perkataan orang budak yang berdosa di hadapan tuannya yang galak.
Keempat: Bersikaplah kepada orangtua dengan sikap tawadlu’ dan merendah diri dan taatlah kamu kepada mereka berdua dalam segala yang diperintahkan terhadapmu, selama tidak berupaya kemaksiatan kepada Allah. Yakni sikap yang ditimbulkan oleh belas kasih dan sayang mereka berdua, karena mereka benar-benar memerlukan orang yang bersifat butuh pada mereka berdua. Dan sikap itulah, puncak ketundukan dan kehinaan yang bisa dilakukan.
Kelima: Hendaklah kamu berdo’a kepada Allah agar Dia merahmati kedua orangtuamu dengan rahmat-Nya yang abadi, sebagai imbalan kasih sayang mereka berdua terhadap dirimu ketika kamu masih kecil dan belas kasih mereka yang baik terhadap dirimu. (Mustafa Al-Maraghi: 61-63)
Menurut hemat penulis, bahwa makna dari qoulan karima, yaitu kata-kata yang baik, yang mulia dan yang beradab. Kata yang apabila diucapkan tida membuat orang lain sakit hati, benci atau bahkan jengkel akibat dari kata-kata tersebut. Kata yang demikian, yaitu kata yang sopan dan tidak kasar. Kata kasar seperti kata-kata yang diungkapkan dengan cara membentak-bentak, atau menghardik sehingga orang yang mendengarkannya merasa tidak betah. Kesopanan dalam menyampaikan perkataan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam upaya menyampaikan atau menghadirkan ilmu pengetahuan maupun informasi ke dalam benak maupun hati seseorang. Kata yang santun, yang mulia membuat orang yang mendengarkannya merasa tenang da tenteram. Sedangkan kata-kata yang kurang bijak dan kasar, hanya akan mengakibatkan orang menjauhkan diri dari orang yang menyampaikannya.
Daftar Pustaka

Al-Maraghi, Mustafa, Tafsir Al-Maraghi, Mustafa Al-Babi Al-Halabi, Mesir, diterjemahkan oleh Herry Noer Aly, Bahrun Abu Bakar, Toha Putra, Semarang, 1988, Cet. V.

Hamka, Tafsir Al-Azhaar, Yayasan Latimojong, Surabaya, juz XV.

Katsir, Ibnu, Terjemah Singkat Tafsir Ibu Katsir, diterjemahkan oleh Salim Bahreisy & H. Said Bahreisy, PT. Bina Ilmu, 1990.

Qurtubi, Ibnu Ahmad Al-Ansori, Al-Jami’ul Ahkam Al-Qur’an, Darul Hud, juz V 159.

4. QAULAN BALIIGHAN
SURAH AN-NISA’ 63

اولئك الذين يعلم الله ما فى قلوبهم فأعرض عنهم وعظهم وقل لهم فى أنفسهم قولا بليغا
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah dari mereka dan berilah mereka pelajaran dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas dalam diri mereka.

Kata (balighan) terdiri dari huruf ba’, lam dan ghaiin. Para pakar bahasa menyatakan bahwa semua kata yang terdiri dari huruf-huruf tersebut mengandung arti sampainya sesuatu ke sesuatu yang lain. Ia juga bermakna “cukup”, karena kecukupan mengandung arti sampainya sesuatu kepada batas yang dibutuhkan. Para pakar sastra menekankan perlunya dipenuhi beberapa kriteria, sehingga pesan yang disampaikan dapat disebut balighan, yaitu:
1. Tertampung seluruh pesan dalam kalimat yang disampaikan.
2. Kalimatnya tidak bertele-tele, tetapi tidak pula singkat sehinga mengaburkan pesan.
3. Kosakata yang merangkai kalimat tidak asing bagi pendengar dan pengetahuan lawan bicara, mudah diucapkan serta tidak “berat” terdengar.
4. Keserasian kandungan gaya bahasa dengan sikap lawan bicara.
5. Kesesuaian dengan tata bahasa.
Ayat di atas mengibaratkan hati mereka sebagai wadah ucapan sebagaimana dipahami dari kata (fii anfusihim). Wadah tersebut harus diperhatikan, tidak hanya kuantitasnya, tetapi sifat wadahnya. Untuk itulah ada jiwa ang harus diasah dengan ucapan-ucapan halus dan ada juga yang harus dihentakkan dengan kalimat-kalimat keras atau ancaman yagn menakutkan. Walhasil di samping ucapan yang disampaikan, cara penyampaian da waktunya pun harus diperhatikan.
Hal ini dapat dipahami: sampaikan nasihat kepada mereka secara rahasia, jangan permalukan mereka di hadapan umum, karena nasihat atau kritik secara terang-terangan dapat melahirkan antipati, bahkan sikap keras kepala mendorong pembangkangan yang lebih besar lagi. (Shihab, Quraish, 2000:468-469)
Dala Tafsir Ibnu Katsir, diterangkan bahwa turunnya ayat ini karena terjadi peristiwa, yaitu pertengkaran antara seorang sahabat Anshar dan seorang Yahudi. Sang Yahudi meminta berhakim kepada Muhammad, dan si sahabat meminta berhakim kepada Ka’ab bin Al-Asyraf, yaitu salah seorang pemuka Yahudi. Dan ada pula yang menafsirkan, ada seorang munafik yang mengaku dirinya Islam dan hendak berhakim kepada hakim Jahiliyah.
Secara tegas dalam tafsir ini dinyatakan, bahwa Dia Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati orang-roang munafik itu dan tidak ada sesuatu yang tidak dapat mereka sembunyikan. Dan Allah memberi balasan yang setimpal kepada mereka. Karena itu berpalinglah hai Muhammad dari mereka, berilah mereka pelajaran dengan perkataan dan nasihat-nashat yang membekas pada jiwanya, sehingga dapat menghilangkan sifat-sifat kemunafikan mereka dari hati mereka. (Ibnu Katsir, 1984:462-463)
Di dalam Tafsir al-Maraghi diterangkan, bahwa arti qoulan balighan yaitu “perkataan yang bekasnya hendak kamu tanamkan di dalam jiwa mereka”. Lebih jauh lagi dalam tafsir ini diterangkan bahwa Allah meminta agar mereka diperlakukan dengan 3 cara:
Pertama: berpaling dari mereka dan tidak menyambut dengan muka yang berseri dan penghormatan. Hal ini menimbulka berbagai kecemasan dan ketakutan pada akibat buruk di dalam hati mereka. Mereka balum yakin akan sebab-sebab kekufuran dan kemunafikan mereka. Oleh karena itu mereka takut jika diturunkan kepada Rasulullah surat yang memberitahukan apa yang tersimpan di dalam hati mereka.
Kedua: memberikan nasihat dan peringatan akan kebaikan dengan cara yang dapat menyentuh hati mereka dan mendorong mereka merenungi berbagai pelajaran dan teguran yang disampaikan kepada mereka.
Ketiga: menyampaikan kata-kata yang membekas di dalam hati mereka, sehingga mereka merasa gelisah dan takut karenanya. Seperti mengancam mereka akan dibunuh dan dibinasakan, jika lahir kemunafikan dari mereka dan memberitahukan kepada mereka keburukan dan kemunafikan yang disimpan di hati mereka tidak tersembunyi bagi Allah Yang Maha Mengetahui tentang rahasia dan bisikan. Kemudian memberitahukan bahwa tidak ad perbedaan antara mereka dengan orang kafir. Mereka tidak diperangi karena mereka menampakkan keimanan tetapi menyembunyikan kemunafikan. Sekiranya kedok mereka itu terbuka, niscaya mereka pun diperangi. (Al-Maraghi, 1986:123-129)
Dalam Tafsir Adz-Dzikro, ayat di atas ditafsirkan sebagai perintah untuk menghindari mereka dan jangan menerima mereka dengan muka manis. Sikap itu menimbulkan getaran jiwa dan rasa takut terhadap akibat buruk perbuatannya. (Bahtiar Surin, 1991:359)
Dari uraian di atas, menurut hemat penulis, makna dari qoulan balighan aitu kata-kata yang mengandung arti sampainya sesuatu kepada batas yang dibutuhkan. Kata tersebut juga dimaksudkan dapat memberikan bekas di hati orang yang hendak ktia tanami. Agar tercapai seperti yang diidamkan, maka kata-kata tersebut harus: tertampung seluruh pesan dalam kalimat yang disampaikan. Kalimatnya tidak bertele-tele tetapi tidak pula singkat sehingga mengaburkan pesan. Kosakata yang merangkai kalimat, tidak asing bagi pendengar dan pengetahuan lawan bicara, mudah diucapkan serta tidak “berat” terdengar. Keserasian kandungan gaya bahasa dengan sikap lawan bicara. Kesesuaian dengan tata bahasa.

Daftar Pustaka

Al-Maraghi, Mustafa, Tafsir Al-Maraghi, diterjemahkan oleh Herry Noer Aly, Bahrun Abu Bakar, CV. Toha Putra, Semarang.

Katsir, Ibnu, Terjemah Singkat Tafsir Ibu Katsir, diterjemahkan oleh Salim Bahreisy & H. Said Bahreisy, PT. Bina Ilmu, 1984.

Sihab, quraisy, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Ciputat, Jakarta, Lentera Hati, 2000, Cet. I.

Surin, Bahtiar, Tafsir Adz-Dzikro, Terjemah dan Tafsir, Angkasa Bandung.

5. QAULAN MA’RUUFAN
SURAH AN-NISA’ 5

ولا توء توا السفهاء أموا لكم التى جعل الله لكم قيما وارزقوهم فيها واكسوهم وقولوا لهم قولا معروفا
Dan janganlah kamu menyerahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta kamu agn dijadikan Allah untuk kamu sebagai pokok kehidupan. Berilah merea belanja dan pakaian dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

Ayat di atas melarang memberi harta kepada para pemilik yang tidak mampu mengelola hartanya dengan baik. Mereka itu orang-orang yang belum sempurna akalnya, baik anak yatim, anak kecil, orang dewasa atau wanita, karena harta tersebut masih menjadi wewenang yang bersangkutan sehingga harus dipelihara dan tidak boleh diboroskan atau digunakan bukan pada tempatnya. Dan hendaknya harta tersebut dapat digunakan sebagai modal dalam berusaha sehingga menghasilkan keuntungan. Dalam pandangan Al-Qur’an, modal boleh menghasilkan dari dirinya sendiri, akan tetapi hasilnya haruslah dari usaha baik manusia. Maka dari itu riba dan perjudian dilarang.
Kendati uang merupakan modal dan salah satu faktor produksi yang penting, tetapi bukan yang terpenting. Manusia tetap menempati posisi yang tertinggi. Untuk itulah hubungan harmonis antarwarga harus terus dipelihara, dan karena itulah ayat ini ditetapkan dengan perintah ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik (Shihab, Quraish, 2000:330-332)
Di dalam Tafsir Ibnu Katsir diterangkan bahwa Allah melarang dalam firmanNya ayat 5 menyerahkan harta kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, yaitu orang-orang yang belum baligh, orang gila dan orang dewasa yang tidak dapat mengatur harta bendanya. Mereka itu seharusnya tidak diberi kesempatan untuk mengatur harta bendanya karena harta tersebut merupakan sandaran bagi manusia. Dan walaupun kepada mereka itu dilarang memberi harta, namun wajib bagi sang waris menguasai harta milik mereka dan diwajibkan baginya memberi mereka pakaian dan belanja dari hasil harta mereka itu dengan disertai ucapan dan kata-kata yang baik. (Ibnu Katsir:307)
Dalam Tafsir Al-Wadhih, M. Mahmud Hijazi, menjelaskan hendaknya para wali (orang tua) memberikan sebagian hartanya kepada anak asuhnya dengan syarat anak tersebut bukan anak yang bodoh yang tak mengerti bagaimana membelanjakan harta secara baik. Ataupun alangkah lebih baiknya harta tersebut disimpan hingga waktu di mana anak tersebut mempunyai kemampuan untuk mengelolanya.
Dan hendaknya wali memberikan harta dari hasil jerih payah yang diperolehnya dari harta miliknya tersebut berupa sesuatu yang sudah jadi atau berwujud sesuatu, baik berupa uang maupun barang, bukan sesuatu hal yang belum jadi. Adapun harta tersebut meliputi segala sesuatu yang digunakan untuk menafkahinya, baik berupa sandang, papan maupun pangan. Dalam memperlakukan mereka, hendaknya memperlakukannya dengan perlakuan yang baik, sebagaimana layaknya memperlakukan anak sendiri dengan kasih sayang dan lemah lembut. Dan hendaknya ditumbuhkan baginya rasa keagungan dan kemuliaan dalam membelanjakan harta dalam hal-hal yang bermanfaat. (Mahmud Hijaz)
Dalam Tafsir Al-Qurtubi dijelaskan mengenai قولا معروفا yaitu melembutkan kata-kata dan menepati janji. Dan beberapa ulama’ berselisih mengenai kata . Sebagian mengartikan: serulah mereka, semoga Allah melimpahkan keberkahan bagimu dan menjagamu. Dan ada sebagian yang lain mengartikan yaitu berilah janji dengan janji yang baik. (Mustafa Al-Maraghi: 33)
Dalam Tafsir Adz-Dzikro, ditafsirkan; maksudnya: harta orang yang di bawah kekuasaanmu. Bila harta mereka diserahkan kepadanya, padahal mereka belum sempurna akal, jika harta itu disiasiakannya, maka kewajiban si wali memberikan nafkahnya dengan hartanya sendiri. Jika harta yang disia-siakannya itu (sekalipun hartanya sendiri) berarti harta si wali sendiri dialah yang bertanggung jawab.
Misalnya: harta ini adalah hartamu sendiri, sedang aku hanyalah penanggungjawab. Bila kamu telah dewasa akan diserahkan kepadamu. Karena itulah pandai-pandilah memelihara harta dan sebagainya. (Surin, Bahtiar: 313-314)
Dalam Tafsir Al-Maraghi dijelaskan bahwasanya ayat di atas berkisar tentang para wali dan orang-orang yang diwasiati, yaitu mereka yang dititipi anak-anak yatim, juga tentang perintah terhadap mereka agar memperlakukan anak yatim dengan baik. Berbicara kepada mereka sebagaimana berbicara kepada anak-anaknya yaitu dengan halus, baik dan sopan, lalu memanggil mereka dengan sebutan anakku, sayangku dan sebagainya. (Maraghi, Mustafa: 347 juz 4)
Menurut hemat penulis, makna dari kata qoulan ma’rufa yait kata-kata yang baik dan halus. Kata-kata yang selayaknya diungkapkan oleh wali atau pengasuh-pengasuh anak yatim terhadap anak didiknya, yaitu kata yang halus dan baik dalam upaya mendidik mereka. Kata tersebut hendaknya tidak menyinggung perasaan mereka, karena jiwa anak yang sangatlah mudah tersinggung dan bahkan sangat sensitif.

Daftar Pustaka

Katsir, Ibnu, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, terjemahan Salim Bahreisy & Said Bahreisy, PT. Bina Ilmu, 1990.

Hijazi, Mahmud, Tafsir Al-Wadhih, Darul Jabal, Beirut.

Maraghi, Mustafa, Tarjamah Singkat Tafsir Al-Maraghi, terjemahan Noer Aly, Bahrun Abu Bakar, PT. Toha Putera, Semarang, 1988, Cet. I.

Shihab, Quraisy, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Lentera Hati, Jakarta, 2000.

Surin, Bahtiar, Tafsir Adz-Dzikro, Terjemah dan Tafsir, Angkasa Bandung, 1991.

Qurtubi, Al-Jami’ul Ahkam Al-Qurtubi.

6. QAULAN SADIIDAN
AN-NISA’ AYAT 9

وليخش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم فليتقوا الله واليقولوا قولا سديدا.
Hendaklah mereka khawatir bila kelak meninggalkan keturunan yang lemah yang dikhawatirkan nasibnya kelak. Hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dan mengatakan kepada mereka kata-kata yang benar.

Kata (sadidan) terdiri dari huruf sin dan dal yang menurut pakar bahasa, Ibnu Faris, menunjukkan kepada makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya. Ia juga berarti istiqomah atau konsistensi. Kata ini juga digunakan untuk menunjukkan sasaran. Seorang yang menyampaikan sesuatu atau ucapan yang benar dan mengena tepat sasarannya, dilukiskan dengan kata ini. Dengan demikian kata sadid dalam ayat di atas tidak sekadar berarti benar, sebagaimana yang sering diterjemahkan oleh para penerjemah, tetapi juga harus berarti tepat sasaran. Dalam konteks ayat di atas, keadaan sebagai anak yatim pada hakikatnya berbeda dengan anak-anak kandung, dan hal ini menjadikan mereka lebih peka, sehingga membutuhkan perlakuan yang lebih hati-hati dan kalimat-kalimat yang lebih terpilih, bukan saja kandungannya benar, tetapi juga tepat, sehingga kalau memberi informasi atau menegur jangan sampai menimbulkan kegalauan hati mereka, tetapi teguran yang disampaikan, hendaknya meluruskan kesalahan, sekaligus membina mereka.
Dan kata sadidan yang mengandung makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya, diperoleh pula petunjuk, bahwa ucapan yang meruntuhkan jika disampaikan harus pula dalam saat memperbaikinya, artinya kritik yang disampaikan hanedkanya merupakan kritik yang membangun atau dalam arti informasi yang disampaikan harus mendidik. (Shihab, Quraish: 2000:336)
Dalam Tafsir Al-Qurtubi dijelaskan makna السديد (as-sadid) yaitu perkataan yang bijaksana dan perkataan yagn benar. Atau ada yang mengatakan perintah orang yang sakit untuk mengeluarkan sebagian hartanya dari hak-hak yang diwajibkannya, kemudian memberi wasiat kepada kerabatnya semampunya selama hal itu tidak dilakukan untuk membahayakan jiwa sang anak. Dan menurut pendapat yang lain, makna lain dari السديد (as-sadid) yaitu hendaknya kau katakan kepada orang yang sekarat dengan perkataan yang bijaksana, yaitu dengan membisikkan kalimat لا إله إلا الله (la ilaha illa llah). Hal itu pun pernah disabdakan Nabi: “Bisikkanlah kepada orang-orang yang dalam keadaan sakaratul maut dengan kalimat لا إله إلا الله . Dalam hal ini pun Rasul tidak mengatakan perintahkanlah kepada mereka, karena jika hal itu merupakan perintah, maka kemungkinan mengandung arti kemarahan dan kedustaan. (Qurtubi; 53)
Dalam Tafsir Al-Manar dijelaskan bahwasanya para mufassir mengartikan makna السديد (as-sadid) dengan arti adil dan benar. Yaitu di mana orang-orang yang beragama menyetujui hukum yang disyari’atkan. Dan ada sebagian kelompok mengatakan bahwa سيد dengan kasroh di sin يسد jika yang dimaksud yaitu membenarkan dalam perkataan, sedangkan اسداد berarti tepat sasaran dan سد difathah pada sin berarti hal yang dimaksud yang benar dan mengandung konsistensi. Dan bila dikasroh pada sin السداد berarti sampainya sesuatu pada sasarannya secara benar. Dan apabila kata السداد diambil dari kata سدالثغر yaitu menutup celah-celah, maka kata السديد berarti segala sesuatu yang tersembunyi yang dapat menangkis segala bentuk kerusakan dan menjaga segala hal yang bermanfaat/bermaslahah. (Rasid Ridho: 393-394)
Dalam Tafsir Ad-Dzikro, Bahtiar Amin menafsirkan, orang-orang hendaknya takut kepada Allah, andaikata sesudah wafatnya meninggalkan keturunan yang lemah di mana mereka khawatir nasib mereka akan terlunta-lunta. Karena itu hendaklah mereka taqwa kepada Allah dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut. (Bahtiar Amin, 1991:316)
Menurut penulis, makna sadid dalam ayat di atas tidak saja berarti benar, akan tetapi juga dapat berarti tepat sasaran. Dalam artian kata-kata yagn diungkapkan merupakan kata-kata yang tepat, sesuai dengan kondisi orang yang diajak berdialog, maupun sesuai dengan bidang yang dikuasainya, sehingga kata-kata tersebut benar dapat tercapai seperti apa-apa yang diinginkannya. Agar tercapai pada sasaran, maka kata-kata yang akan disampaikan hendaknya diungkapkan dengan nada lemah lembut. Jikalaupun kata-kata tersebut merupakan kritik, maka daam kondisi yang bersamaan harus dibarengi dengan upaya untuk memperbaikinya, bukan justru meruntuhkannya, sehingga informasi benar-benar sampai pada sasaran secara tepat, benar dan mengena.

Daftar Pustaka

Qurtubi, Tafsir Jami’ul Ahkam Al-Qurtubi.

126 Responses to “KONSEP KOMUNIKASI DALAM AL-QUR’AN”

  1. Frankie Says:

    Привет!! carlos@onlylcd.ru” rel=”nofollow”>……

    С уважением,…

  2. CAMERON Says:

    Medicamentspot.com International Legal RX Medications. Special Internet Prices (up to 40% off average US price). NO PRIOR PRESCRIPTION REQUIRED!…

    Combivir@buy.online” rel=”nofollow”>.…

  3. ERIC Says:

    Pillspot.org. Canadian Health&Care.Special Internet Prices.No prescription online pharmacy.PillSpot.org. Herbal-supplements@buy.online” rel=”nofollow”>.…

    Categories: Stomach.Womens Health.Weight Loss.Anti-allergic/Asthma.Eye Care.Stop SmokingAntiviral.Mens Health.Antibiotics.Anxiety/Sleep Aid.Pain Relief.Vitamins/Herbal Supplements.Antidiabetic.Mental HealthAntidepressants.Skin Care.Blood Pressure/…

  4. RAMON Says:


    Medicamentspot.com. Canadian Health&Care.No prescription online pharmacy.Special Internet Prices.Best quality drugs. Online Pharmacy. Buy pills online

    Buy:Maxaman.Cialis.Propecia.Viagra Super Force.Viagra Professional.Tramadol.Cialis Professional.Zithromax.VPXL.Super Active ED Pack.Viagra Soft Tabs.Cialis Super Active+.Levitra.Soma.Cialis Soft Tabs.Viagra Super Active+.Viagra….

  5. portable Says:

    portable http://kmylieuds.05KIAPARTS.US/tag/portable+digital+amp+tv/ : digital…

    digital…

  6. JOEY Says:


    NEW FASHION store. Original designers collection at low prices!!! 20 % TO 70 % OFF. END OF SEASON SALE!!!

    BUY FASHION. TOP BRANDS: GUCCI, DOLCE&GABBANA, BURBERRY, DIESEL, ICEBERG, ROBERTO CAVALLI, EMPORIO ARMANI, VERSACE…

  7. ERNEST Says:

    buy@Amoxicillin.com” rel=”nofollow”>.

    Buy:Viagra Super Active+.Viagra Soft Tabs.Viagra Professional.Maxaman.Tramadol.Cialis Super Active+.Super Active ED Pack.Cialis.VPXL.Soma.Cialis Professional.Levitra.Viagra Super Force.Cialis Soft Tabs.Viagra.Propecia.Zithromax….

  8. EVAN Says:

    ████████►BUY VIAGRA◀███████…

    ████████▲▲▲▲▲▲▲▲▲████████…

  9. CLINTON Says:

    ████████►BUY LEVITRA◀███████…

    ▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲▲…

  10. CURTIS Says:

    buy viagra canada

    Buygeneric drugs…

  11. JUAN Says:

    Accupril

    Buygeneric drugs…

  12. TIMOTHY Says:

    dosage of amoxicillin for respiratory disorder

    Buygeneric drugs…

  13. COREY Says:

    Cialis UK

    Buynow it…

  14. GABRIEL Says:

    Abilify

    Buygeneric pills…

  15. ARMANDO Says:

    abilify and siezures

    Buynow…

  16. DAVE Says:

    Accutane@official.site” rel=”nofollow”>.

    Buywithout prescription…

  17. LAWRENCE Says:

    Buygeneric meds…

  18. JIMMIE Says:

    Actos@official.site” rel=”nofollow”>..

    Buywithout prescription…

  19. JOSHUA Says:

    Aldactone@official.site” rel=”nofollow”>.

    Buygeneric drugs…

  20. SHAWN Says:

    fruite@of.the.earth.aloe.vera.juice.sale” rel=”nofollow”>…

    Buynow…

  21. DARRELL Says:

    altace@medication.now” rel=”nofollow”>…

    Buygeneric meds…

  22. FERNANDO Says:

    Amoxicillin@official.site” rel=”nofollow”>…

    Buyno prescription…

  23. MARK Says:

    tylenol zyrtec recall

    Buyno prescription…

  24. GREGORY Says:

    Azor@official.site” rel=”nofollow”>…

    Buygeneric pills…

  25. FREDDIE Says:

    cipro@250.mg” rel=”nofollow”>..

    Buygeneric meds…

  26. CARLTON Says:

    abilify@vs.risperidone.dosage” rel=”nofollow”>.

    Buygeneric drugs…

  27. JULIAN Says:

    abilify@anxiety.now” rel=”nofollow”>.

    Buygeneric drugs…

  28. JEREMY Says:

    generic@Levitra.now” rel=”nofollow”>..

    Buyno prescription…

  29. BRIAN Says:

    buy@cheap.viagra.in.uk” rel=”nofollow”>.

    Buywithout prescription…

  30. KIRK Says:

    buy@viagra.in.london.england” rel=”nofollow”>…

    Buygeneric drugs…

  31. GUY Says:

    abilify@and.sleep.issues” rel=”nofollow”>.

    Buyno prescription…

  32. ALVIN Says:

    < a href=”http://my.gardenguides.com/members/buy-Tramadol? buy@Tramadol.now

    Buyno prescription…

  33. ROLAND Says:

    prozac@dangers.now” rel=”nofollow”>..

    Buygeneric drugs…

  34. LEE Says:

    i@am.pregnant.how.often.can.i.take.25mg.of.phenergan.safely” rel=”nofollow”>…

    Buygeneric drugs…

  35. HARVEY Says:

    Zyvox@official.site” rel=”nofollow”>..

    Buygeneric pills…

  36. MATTHEW Says:

    what is the shelf life of zyrtec

    Buynow it…

  37. JASON Says:

    zofran odt

    Buynow it…

  38. LARRY Says:

    buy zithromax online

    Buyno prescription…

  39. JAVIER Says:

    buy zinc anode everett wa

    Buygeneric meds…

  40. COREY Says:

    diovan

    Buyit now…

  41. SHAWN Says:

    Clindamycin

    Buywithout prescription…

  42. DARRYL Says:

    zyrtec benadryl

    Buyit now…

  43. REX Says:

    Zoloft

    Buygeneric drugs…

  44. MAURICE Says:

    asperger zoloft 100

    Buydrugs without prescription…

  45. SHAWN Says:

    Xalatan

    Buywithout prescription…

  46. DAVE Says:

    Zyrtec

    Buyno prescription…

  47. ANTHONY Says:

    buy liposomal lidocaine 4% cream maxilene

    Buywithout prescription…

  48. ORLANDO Says:

    Zoloft

    Buyit now…

  49. RUSSELL Says:

    Zofran

    Buygeneric pills…

  50. JULIO Says:

    zyrtec anticolinergici effect

    Buyno prescription…

  51. JONATHAN Says:

    can you take zoloft and blood pressure medication together

    Buynow…

  52. ANDY Says:

    Vitamin B

    Buynow it…

  53. MATHEW Says:

    where to buy lamisil

    Buygeneric drugs…

  54. CALVIN Says:

    gilbert’s syndrome tylenol

    Buygeneric meds…

  55. ADAM Says:

    Zyrtec

    Buygeneric meds…

  56. DANA Says:

    pharmacokinetics of zyrtec

    Buyit now…

  57. MIGUEL Says:

    stopped taking prozac realized i like him

    Buygeneric drugs…

  58. DOUG Says:

    dermatological side effects of rogaine

    Buywithout prescription…

  59. DONNIE Says:

    purim wiki

    Buydrugs without prescription…

  60. JEFF Says:

    Prozac

    Buynow it…

  61. PETER Says:

    provera 10 days perimenopause

    Buygeneric drugs…

  62. CHRISTIAN Says:

    Orlistat

    Buyit now…

  63. NICHOLAS Says:

    Omnicef

    Buynow it…

  64. LUTHER Says:

    negative side effects of seroquel

    Buygeneric drugs…

  65. JESSIE Says:

    Synthroid

    Buygeneric pills…

  66. HUBERT Says:

    Prozac

    Buyno prescription…

  67. VIRGIL Says:

    Retin A

    Buywithout prescription…

  68. ALFONSO Says:

    Pyridium

    Buydrugs without prescription…

  69. LONNIE Says:

    Remeron

    Buyno prescription…

  70. JIMMY Says:

    Pyrantel Pamoate

    Buygeneric meds…

  71. CLINTON Says:

    Purim

    Buyno prescription…

  72. ANDRE Says:

    Synthroid

    Buygeneric meds…

  73. ROBERTO Says:

    can i take expired zyrtec

    Buygeneric drugs…

  74. GERALD Says:

    Patanol

    Buynow it…

  75. DUANE Says:

    savella diabetes blood sugar

    Buygeneric drugs…

  76. CHRIS Says:

    Rogaine

    Buygeneric meds…

  77. RUSSELL Says:

    Pulmicort

    Buywithout prescription…

  78. MATTHEW Says:

    Tetracycline@Tetracycline.Tetracycline” rel=”nofollow”>…

    Buyno prescription…

  79. CURTIS Says:

    Zoloft

    Buynow it…

  80. DANIEL Says:

    Purim@Purim.Purim” rel=”nofollow”>…

    Buyno prescription…

  81. MANUEL Says:

    Slimfast@Slimfast.Slimfast” rel=”nofollow”>..

    Buygeneric drugs…

  82. ADRIAN Says:

    Synthroid@Synthroid.Synthroid” rel=”nofollow”>..

    Buynow it…

  83. LOUIS Says:

    Synthroid@Synthroid.Synthroid” rel=”nofollow”>.

    Buyit now…

  84. KARL Says:

    Cymbalta@Cymbalta.Cymbalta” rel=”nofollow”>.

    Buyit now…

  85. GREGORY Says:

    Provera@Provera.Provera” rel=”nofollow”>.

    Buygeneric pills…

  86. MATTHEW Says:

    Crestor@Crestor.Crestor” rel=”nofollow”>…

    Buyno prescription…

  87. WENDELL Says:

    Coreg@Coreg.Coreg” rel=”nofollow”>…

    Buywithout prescription…

  88. TREVOR Says:

    Prozac@Prozac.Prozac” rel=”nofollow”>.

    Buygeneric drugs…

  89. JEREMY Says:

    Claritin@Claritin.Claritin” rel=”nofollow”>..

    Buyit now…

  90. CHARLIE Says:

    .

    Buygeneric drugs…

  91. RICKY Says:

    Buygeneric meds…

  92. MELVIN Says:

    ..

    Buywithout prescription…

  93. SHAUN Says:

    cms@coverage.of.pulmicort.respules.j7627” rel=”nofollow”>.

    Buygeneric pills…

  94. CLAUDE Says:

    ..

    Buygeneric drugs…

  95. DALE Says:

    Buydrugs without prescription…

  96. SHAUN Says:

    what@side.effects.does.abilify.cause” rel=”nofollow”>…

    Buygeneric meds…

  97. PHILIP Says:

    chantix@vs.zyban” rel=”nofollow”>..

    Buyit now…

  98. KURT Says:

    buy@acai.berry.supplement” rel=”nofollow”>.

    Buyit now…

  99. WAYNE Says:

    accutane@and.ototoxicity” rel=”nofollow”>…

    Buyno prescription…

  100. MARK Says:

    retin@a.cheap.no.prescription” rel=”nofollow”>..

    Buygeneric drugs…

  101. EUGENE Says:

    dried@neem.leaves” rel=”nofollow”>…

    Buywithout prescription…

  102. KEITH Says:

    crestor@statin.drugs” rel=”nofollow”>…

    Buyit now…

  103. ROBERT Says:

    man@plan.a.and.b” rel=”nofollow”>..

    Buygeneric drugs…

  104. HARVEY Says:

    .

    Buygeneric drugs…

  105. SCOTT Says:

    cymbalta@20.mg” rel=”nofollow”>…

    Buygeneric drugs…

  106. ELMER Says:

    Buygeneric pills…

  107. ANTONIO Says:

    aleve@active.ingredient” rel=”nofollow”>.

    Buygeneric meds…

  108. RICKY Says:

    .

    Buygeneric drugs…

  109. HECTOR Says:

    order@altace.cod” rel=”nofollow”>..

    Buynow…

  110. MELVIN Says:

    Buydrugs without prescription…

  111. HARRY Says:

    .

    Buygeneric drugs…

  112. WESLEY Says:

    methotrexate@and.placenta.acretia” rel=”nofollow”>.

    Buygeneric drugs…

  113. EDDIE Says:

    motrin@for.61.pounds” rel=”nofollow”>…

    Buygeneric meds…

  114. SALVADOR Says:

    is@neem.safe.to.use.on.skin” rel=”nofollow”>…

    Buygeneric pills…

  115. REX Says:

    coral@calcium.safety” rel=”nofollow”>.

    Buyit now…

  116. ROBERTO Says:

    .

    Buynow…

  117. LEROY Says:

    dosage@of.abilify” rel=”nofollow”>..

    Buynow it…

  118. FRANKLIN Says:

    how@long.before.extenze.works” rel=”nofollow”>.

    Buygeneric pills…

  119. LYNN Says:

    premarin@cream.comments” rel=”nofollow”>…

    Buyit now…

  120. NICK Says:

    .

    Buyno prescription…

  121. JUAN Says:

    Buyno prescription…

  122. EDDIE Says:

    calories@and.nutrition.in.boost.nutritional.energy.drink” rel=”nofollow”>…

    Buywithout prescription…

  123. SALVADOR Says:

    ..

    Buyit now…

  124. monette prana Says:

    monette prana…

    [...]KONSEP KOMUNIKASI DALAM AL-QUR???AN | imam.mudjiono[...]…

  125. CORY Says:


    BUY CHEAP DRUGS : -==== Anti Convulsants Drugs ====-

    Purchase Quality Generic Drugs Now!…

  126. JACK Says:


    GENERIC PHARMACY : -==== Respiratory Cure ====-

    Order Good Generic Drugs Today!…

Leave a Reply