hubungan muslim kristen

Mahmoud Mustafa Ayoub:
Hubungan Muslim-Kristen Perspektif  Muslim

A. Pendahuluan
Menurut akar sejarah, Islam dan Kristen berasal dari  Nabi yang sama, yaitu  Ibrahim. Lebih lanjut agama, Islam, Kristen dan Yahudi dikelompokkan ke dalam Abrahamic Religion. Secara teologis, agama-agama Ibrahim dicirikan dengan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (monoteisme), meskipun ketiga agama tersebut memiliki konsep monoteisme yang berbeda-beda. Oleh karena itu, monoteisme  di anggap sebagai titik temu Abrahamic Religion .
Hubungan Muslim-Kristen, termasuk di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir ini banyak diwarnai konflik sehingga masyarakat sering mengalami ketegangan. 
Sejak peristiwa Situbondo sampai perusakan tempat ibadah di Jawa Barat, rasa saling percaya  antara umat  berbeda agama menjadi berkurang bahkan dalam situasi tertentu hilang sama sekali. Yang tersisa tinggalah rasa saling curiga, was-was atau dendam pada komunitas tertentu.
Banyak kalangan mulai mempertanyakan kerukunan umat beragama di Indonesia yang selama ini diklaim berjalan baik dan harmonis. Kenyataannya, sepanjang tahun 1990-an ,dari serangkaian kekerasan dan kerusuhan massa  beraroma SARA, unsur agama cukup menonjol. Di antaranya kekerasan yang terjadi di Situbondo 1996, Tasik Malaya 1997, Ketapang 1998, Kupang 1998, Ambon 1999, dan Mataram 2000.
Atas nama “agama” sebuah komunitas tidak segan-segan merusak infrastruktur   komunitas lain. Kerugian fisik tempat dan sarana ibadah dapat dikalkulasi dan direhabilitasi, tetapi kerugian berupa pencederaan moral  dan spiritual terlebih jiwa terlalu sulit untuk dinilai.
Ironis memang, Bangsa Indonesia yang sering disebut sebagai bangsa bertoleransi tinggi dan berkerukunan agama,  bahkan  sering disebut sebagai religious society, lebih dari itu, M. Arkoun  dan Sajida S.Alvi  pun pernah mengagumi dan memuji bangsa Indonesia sebagai masyarakat muslim yang pluralistik baik intra maupun antarumat beragama,  ternyata menempuh jalan violence dan mengabaikan jalan  non violence sebagaimana diajarkan oleh semua agama sebagai jalan keluar dari krisis. Di antaranya  ada yang lebih menyenangi jalan kekerasan,  baik simbolik maupun  manifest.
Historia Lecasmoa, sejarah akan selalu terulang. Untuk mengupayakan keharmonisan hubungan antarumat beragama , perlu menengok ke belakang, terutama melihat  hubungan Islam-Kristen di masa lalu dalam pandangan  pakar Islam, baik di Indonesia maupun di Negra lain. Fluktuasi hubungan Muslim-Kristen,  disamping banyak dipengaruhi oleh faktor ideologis juga dipengaruhi faktor politik dan ekonomis
Mustafa Mahmoud Ayoub  sebagai pemikir kontemporer menaruh perhatian sangat besar terhadap masalah hubungan Muslim-Kristen. Kegelisahan intelektualnya dilatarbelakangi realitas hubungan  keagamaan, terutama Muslim-Kristen sebagai sesama Ibrahimic Religion. Oleh karena itu telaah atas karya ini dirasa perlu , setidaknya sebagai window shoping  dalam upaya pengayaan referensi, pembanding pandangan pakar Islam masa lalu dalam menyikapi hubungan Muslim-Kristen di negara lain, terutama Mesir.
Dari pandangan tersebut diharapkan dapat digalang suasana penuh perdamaian   dan kerjasama dinamis konstruktif dalam perjalanan bersama  untuk menjadi sebuah bangsa besar yang dihormati negara lain, sebagai sesama yang bermartabat dan berbudaya..
Karya Mustafa Mahmoud Ayoub ( selanjutnya disebut Ayoub) membahas persoalan hubungan Muslim-Kristen persepektif Muslim dan Islam. Tulisan sederhana ini hanya memfokuskan pembahasan pada salah satu bagian saja yakni Perspektif Muslim saja dari karya Ayoub, yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Ali Noer Zaman, dengan judul  Mengurai Konflik Muslim Kristen Perspektif  Islam.   Sebenarnya yang di blow up oleh Ayoub bukan persoalan konflik Muslim-Kristen, melainkan hubungan keduanya. Secara garis besar Ayoub menguraikan masalah Kristen dan hubungan Muslim dalam perpektif Islam dan Muslim. Dalam tulisan ini yang dicermati hanya terbatas pada perpektif Muslim saja.
Secara umum uraian Ayoub  sangat menarik dan perlu dikaji. Meskipun secara teknis terlihat beberapa lompatan, sehingga buku tersebut terkesan sebagai kumpulan artikel atau jurnal yang agak “dipaksakan” untuk menjadi sebuah buku. Tidak adanya benang merah atau uraian singkat yang menghubungkan antar bab atau bagian, serta seringnya terjadi pengulangan uraian, semakin memperkuat dugaan bahwa buku tersebut benar-benar merupakan kumpulan makalah seminar atau jurnal yang belum sempat diedit ulang dan disistematisir. Tetapi sekali lagi buku tersebut tetap menarik dan perlu  dibaca, karena berisi pandangan para pakar Islam yang sarat  opini dan gagasan menyangkut hubungan Muslim-Kristen. Setidaknya, terlihat bahwa sepanas apapun polemik menyangkut hubungan keduanya, tidak melontarkan ajakan untuk bersikap barbaric over specialization tidak pernah terlontar ajakan atau fatwa untuk melakukan bom bunuh diri atas nama agama, atau untuk merusak tempat peribadatan pihak lain.
Untuk memudahkan  pemahaman, terlebih dulu perlu dipahami metodologi yang digunakan dan riwayat hidupnya. Ayoub menggunakan metode Comparatif-Historis dalam penulisan ini. Mufasir multi madzhab ini dalam menafsirkan suatu ayat, senantiasa merujuk pada pendapat para mufasir, baik klasik maupun modern, Sunni maupun Syi’ah, rasionalis maupun sufi, radikal maupun moderat.
Ciri lainnya,  dalam membuat kesimpulan akhir,  tidak terlalu terikat dengan cara penafsiran pada umumnya. Hal ini dilakukan ketika menjumpai benturan keras antara dua atau tiga penafsiran. Keadaan ini juga banyak dipengaruhi oleh latar belakangnya yang Syi’ah. Pada umumnya tradisi penafsiran dan pemikiran Syi’ah sangat dekat dengan pemikiran dan teologi Mu’tazilah serta penafsiran kaum Sufi, yang tidak terlalu terikat pada makna harfiyah suatu teks. Metode tafsir Ayoub yang bersifat lintas madzhab tersebut telah dibuktikan dalam karya tafsirnya
Ayoub lahir th 1935 di sebuah desa Syi’ah, Ain Qana, Lebanon Selatan.  Mengenyam pendidikan tinggi di University of Pennsylvania  dan Harvard University dan memperoleh gelar Ph.D. Pernah menjadi Research Associate  di Centre for Religious Studies of University of Toronto, Kanada, dan saat ini menjadi Profesor of Islamic Studies di departemen of Religion, Temple university  Philadelphia,  Amerika Serikat. Salah satu dari banyak karyanya  adalah  adalah  Redemtive Suffering  in Islam: Study of Devotional Aspect of Ashura in Twelver  Shi’ism. Dalam bidang Tafsir Ayoub telah menerbitkan dua dari sepuluh jilid  yang yang direncanakan  dengan judul The Qur’an and Its Interpreters I & II  (Albany: State University of New York Press, 1984 dan 1992). Ayoub banyak terlibat dalam dialog Muslim-Kristen dan sering menghadiri konferensi-konferensi hubungan antaragama.

B. Muslim-Kristen dalam Perspektif Muslim
Pada memparkan tentang hubungan Muslim-Kristen dalam perspektif Muslim, Ayoub mem blow up pandangan empat pemikir Muslim yang menggambarkan tipe-tipe hubungan yang sering terjadi antara Islam dan Kristen. Ke-empat pemikir itu berusaha untuk mempertahankan Islam dari serangan orang-orang Kristen, baik yang bersifat aktual maupun hipotetis. Dua di antaranya adalah pendiri gerakan pembaharuan Islam dari abad ke-20, yakni Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, yang masing-masing menjelaskan dengan karya-karya apologetiknya. Muhammad Abduh dalam karyanya ,  memfokuskan pada pembelaan Islam dari ancaman humanisme, sains dan filsafat Barat. Sementara  Rasyid Rida  menjawab serangan misionaris-misionaris Kristen ke negeri-negeri Muslim dalam sebuah bukunya yang monumental.
Dua pemikir lainnya yang hidup setelah berakhirnya  era  kolonial menunjukkan kecenderungan yang lebih polemis dengan cara yang sangat tradisional. Syaikh Muhammad Abu Zahrah dengan bukunya  yang mengemukakan penolakan atas doktrin Kristen. Sementara itu  Ahmad Syalabi,  Doktor sejarah lulusan Cambridge, menulis sebuah buku   yang cenderung untuk menolak agama Kristen daripada memahaminya.
Dua dari empat pemikir Muslim yang menjadi icon pada pembahasan sejarah panjang hubungan Muslim-Kristen, Syaikh Muhammad Abduh (w.1905) dan Sayyid Muhammad Rasyid Rida (w.1935), menyaksikan keruntuhan dan tercerai berainya Kekaisaran Turki Utsmani  menjadi beberapa bagian yang masing-masing dikuasai dan dijajah oleh negara Barat. Secara umum kedua pemikir ini memusatkan perhatian pada persoalan yang timbul  karena kekalahan kaum Muslim, inferioritas di hadapan liberalisme  dan teknologi Barat serta meningkatnya keragu-raguan atas tradisi dan keimanan kaum muslim . Muhammad Abduh terpusat  pada humanisme, sains dan filsafat barat. Pada sisi lain Rasyid Rida memfokuskan diri pada serangan kaum misionaris Kristen terhadap Islam.
Sedang dua pemikir lainnya Syaikh Muhammad Abu Zahrah dan Ahmad Syalabi, hidup dan menulis karya setelah Perang Dunia ke II. Saksi atas berakhirnya era kolonial ini  mengklaim telah menuliskan hasil studi terhadap agama Kristen secara ilmiah dan obyektif yang ditujukan kepada para mahasiswa  Muslim  perguruan tinggi  Mesir.
Keempat pemikir tersebut hidup dan bekerja di Mesir. Semuanya berusaha mempertahankan Islam dari serangan orang-orang Kristen, baik yang bersifat aktual maupun hipotesis. Karya-karya Muhammad Abduh   dan Rasyid Rida pada umumnya merupakan pembelaan Islam secara apologis, Abu Zahrah dan Syalabi merupakan penolakan terhadap agama Kristen secara polemis.

1.    Muhammad Abduh
Abduh merupakan arsitek pembaharuan  dan gerakan modern Islam yang oleh Ayoub disebut sebagai  representasi dari pemilik kesalehan dan pengetahuan Islam tradisional, serta humanisme barat abad ke 19. Dianjurkannya umat Islam kembali pada zaman keemasannya , sebuah zaman yang penuh orang-orang saleh, al-salaf al-salih. Sebagai  humanis, menganggap zaman normatif  tidak hanya sebagai model kesalehan yang tinggi dan keimanan yang murni, tetapi juga sebagai model kreativitas kultural, kebebasan berpikir, berekspresi dan berkeyakinan yang  memungkinkan agamawan dan penguasa sipil  mencari pengetahuan dari berbagai sumber dan dengan bermacam cara.
Peradaban yang bersemangat , dengan semua keragamanan  kosmopolit, yang dibangun oleh sarjana sarjana Islam, Kristen, Yahudi, dan lainnya, bagi syaikh Muhammad Abduh merupakan model Islam yang sebenarnya sehingga  berusaha mempertahankannya untuk melawan serangan humanisme sekuler barat.
Pandangan ini termaktub dalam serangkaian artikelnya yang pertama dimuat dalam majalah al-Manar al-Islamy, dimana Muhammad Abduh menjadi pendiri dan pemimpin editornya. Perlawanan tersebut dipicu oleh sebuah studi panjang terhadap filosof muslim terkenal, Ibn Rusyd (Ave Roes), yang dilakukan oleh  sarjana Kristen asal Syiria, Farah Antun dan diterbitkan dalam Jamii’ah sebuah jurnal filsafat  humanistik. Studi ini sebenarnya merupakan wujud  sikap kritis Antun terhadap agama yang dianggapnya sebagai penghalang bagi kemajuan dan penelitian bebas. Islam hanya sebagai obyek dari tujuan ini, mungkin juga telah disampaikannya untuk agama Kristen. Antun , yang dipengaruhi oleh kritik terhadap agama Islam abad ke 19 membandingkan sifat dan kedudukan otoritas  agama Islam dan Kristen. Ditegaskan bahwa Eropa Kristen akhirnya memisahkan kekuasaan agama dan kekuasaan sekuler, sehingga memberikan kebebasan berpikir dan berekspresi yang lebih besar. Di sisi lain, dalam Islam, kedudukan khalifah sebagai pemimpin agama dan politik menyebabkan pemberantasan dan penentangan terhadap kebebasan berpikir dan berekspresi.

2. Sayyid Muhammad Rasyid Rida
Rida memulai pembahasannya  dengan perintah Al-Qur’an, “Ajaklah pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik...” dan, “Janganlah berdebat dengan ahli kitab melainkan dengan cara yang terbaik”.
Rida tidak mengkhawatirkan orang-orang Islam yang berpindah ke agama Kristen, karena seorang muslim tidak akan menerima Tuhan selain Allah meskipun pikirannya dipenuhi sedemikian rupa. Akan tetapi, Rida mengkhawatirkan generasi muda muslim yang mungkin mulai meragukan kebenaran agama Islam dan berpaling pada liberalisme.
Sementara itu, Rasyid Rida menulis pembelaannya untuk melawan serangan dan ejekan terhadap keimanan Islam, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad dari kaum misionaris Kristen. Rida menjawab serangan-serangan  yang dikemas dalam bentuk buku, brosur dan jurnal Kristen..Bukunya berisi sejumlah artikel  berbagai tema dengan  gaya yang sesuai. Di sini dipilih tema yang menonjol , dengan mempertimbangkan koherensi tertentu demi penyajian yang lebih jelas.
Sebagai seorang pemikir dan guru agama, Rida merasa berkewajiban  menjawab keraguan dan pertanyaan yang muncul dalam pikiran kaum Muslim karena pengaruh tulisan-tulisan misionaris Kristen. Juga merasa memikul kewajiban terhadap masyarakat untuk mengimbangi permusuhan dan ketidakpercayaan yang dikembangkan oleh kegiatan misionaris.  Oleh karena itu, dibedakannya, apa yang disebut  “pendakwah bayaran” yang semangat keimanannya tergantung pada gaji  dan “Orang-orang Kristen yang bijaksana dan berhati luhur”,  seperti dirinya , yang berharap  setiap masyarakat akan menghargai keimanan orang lain dan bersama-sama bekerja demi kebaikan semua.
Rida mengawali penentangan dengan mengemukakan pandangan Muslim tentang kitab perjanjian Lama dan Baru. Pandangannya jauh melebihi penolakan kaum Muslim yang wajar terhadap kitab-kitab ini. Ditegaskan bahwa al-Qur’an memberikan kesaksian pada Taurat sebagai sebuah kitab syari’ah yang dilembagakan oleh Allah melalui Nabi Musa. Taurat bukanlah sebuah kitab mitologi Babilonia atau Asyria, sebagaimana yang banyak diperlihatkan dalam Kitab Perjanjian Lama. Apabila kandungannya bertentangan dengan akal atau sains, maka dianggap mitos atau fitnah kepada Allah (sebagai contoh, pernyataan bahwa Allah telah menyesal di dalam hati-Nya). Oleh karena itu, kitab Taurat adalah “benar sepanjang merupakan syari’ah dan ketentuan yang diikuti oleh Nabi Musa, para nabi berikutnya dari anak-anak Israel dan para rabi (ahbar) mereka”.

3.  Abu Zahrah
Orang mungkin berharap bahwa kedua pemikir yang akan menjadi perhatian  di bagian akhir studi ini menawarkan sebuah langkah menuju pemahaman Muslim-Kristen yang lebih baik. Namun, patut disayangkan karena justru kembali pada polemik  klasik. Meskipun memiliki pengetahuan luas tentang sumber-sumber utama Kristen maupun perkembangan awal keilmuan Bibel. Tujuan penelitiannya bukan untuk memahami tetapi menolak agama Kristen. Di antara keduanya, pandangan Syaikh Muhammad Abu Zahrah, seorang ulama tradisional, lebih serius, objektif dan orisinal.
Menurut al-Qur’an, Yesus mempercayai dan mengakarkan agama yang berlandaskan keesaan Allah yang mutlak, itulah tauhid. Ajaran ini terdiri dari dua jenis, keesaan Allah sebagai satu-satunya pencipta semua makhluk, dan keesaan-Nya sendiri, dalam Dzat-Nya, terbebas dari antropomorfisme, ketersusunan dan perubahan. Lebih dari itu, Yesus menerima kitab dari Tuhan, yakni Injil, yang menegaskan Taurat, merevitalisasi hukum-hukumnya dan mendukung sanksi-sanksinya. Injil adalah sebuah kitab cahaya dan petunjuk untuk menjadi orang-orang bertakwa. Injil  mengumumkan kedatangan seorang rasul setelah Yesus (Isa) yang bernama Ahmad. Kitab tersebut adalah Injil yang dengannya al-Qur’an menantang kaum yahudi dan Kristen untuk menaatinya.
Dalam uraian tentang ajaran Yesus yang sesungguhnya, Abu Zahrah mencoba mensintesakan apa yang dikatakan Injil dengan al-Qur’an. Menurutnya, Yesus mengajarkan bahwa tidak ada perantara antara manusia dengan Tuhan kecuali kesalehan dan amal baik manusia. Yesus akhirnya memperingatkan manusia akan kemurkaan Tuhan di hari pengadilan kelak, karena orang-orang Yahudi pada masanya dikuasai oleh pandangan materialistik yang mengingkari kehidupan akhirat, pahala dan siksaannya.

4. Syalabi
Ketika membicarakan Yesus dan signifikansinya di bawah rencana bimbingan Illahi, Syalabi memulai dengan kisah Maryam dan Zakaria, berdasarkan keterangan al-Qur’an maupun Injil. Al-Qur’an mengatakan Allah meniupkan roh dari-Nya kepada Maryam. Kemudian Syalabi sebagai sejarawan  membicarakan berbagai pengertian kata roh (spirit, ruh),salah satu maknanya adalah kekuatan penting yang memberikan kehidupan baru bagi makhluk hidup, atau dengan kata lain, “roh” adalah kata perintah (amr) penciptaan dari Tuhan. Jadi, Tuhan “meniupkan roh pada Maryam yang Dia ciptakan tanpa perantara seorang ayah. Makna “meniupkan” di sini adalah perbuatan memberi hidup kepada tubuh”. Syalabi kemudian menegaskan bahwa penciptaan Yesus dengan cara ini tidak memberinya keunggulan atas nabi-nabi lain.
Ada sebuah kecenderungan baru di kalangan para pemikir Muslim modern untuk mendemitologisasi Yesus dan mengecilkan mu’jizat dalam kehidupannya. Tentu saja, kecenderungan ini merupakan sebuah reaksi terhadap hagiografi  Islam klasik pada satu sisi dan teologi kristologi  dalam agama Kristen pada sisi lain. Maka dari itu, kedua pengarang tersebut memberikan penjelasan yang rasional pada kehidupan dan kemu’jizatan Yesus.
Abu Zahrah berkomentar atas cara penciptaan Yesus sebagai berikut, “Penciptaan wujud (Yesus) merupakan sebuah perbuatan yang agennya adalah malaikat, salah satu roh suci yang meniupkan ke dalam pakaian Maryam, dan kemudian jadilah wujud seorang manusia tanpa benih dari seorang laki-laki”. Abu Zahrah juga menegaskan bahwa meskipun Maryam mengandung Yesus dengan cara yang ajaib, namun lama kehamilan dan cara kelahirannya adalah normal. Di sini terlihat sebuah sebuah pemandangan yang menarik tentang Yesus.  Yesus  bukanlah sebuah mu’jizat .
Hikmah  kelahiran Yesus tanpa ayah manusia, menurut pandangan kedua pemikir itu, adalah, pertama, untuk menunjukkan kekuasaan Tuhan dan kehendak-Nya dalam hal penciptaan; Tuhan menciptakan dari ketiadaan; kedua, untuk menunjukkan aspek spiritual umat manusia kepada orang-orang yang mengingkari roh, menganggap manusia hanya badan semata.Demikian pula, sebagaimana mu’jizat Kristus, setiap nabi diberi mu’jizat sesuai dengan masanya dan untuk melawan kesalahan umatnya. Oleh karena itu, mu’jizat Musa dirancang untuk melawan kekuatan magis orang-orang Mesir kuno, sedang mu’jizat Yesus untuk mengimbangi ilmu pengobatan Yunani dan materialisme masyarakatnya .
Sebagaimana telah diketahui, mu’jizat dalam Islam diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Auliya-Nya hanya sebagai bukti status . Maka , Syalabi menolak keterangan Bibel tentang kemu’jizatan Yesus karena, pertama, mu’jizat itu terlalu banyak jumlahnya dan kedua, karena mu’jizat itu seperti pertunjukan drama tanpa sebuah tujuan. Syalabi memprotes, “Allah yang menyebabkan kematian dan Yesus hidup kembali”. Lebih lanjut mengkritik pernyataan Injil bahwa Yesus telah memberikan kekuatannya kepada murid-muridnya dan kemudian kepada gereja.
Namun demikian, jika Yesus datang dengan mu’jizat yang hebat semacam itu (ini fakta yang disepakati oleh kaum Muslim dan Kristen), mengapa orang-orang bukan hanya tidak mempercayainya tetapi bahkan mencoba untuk membunuhnya? Dari sudut pandang Islam, tentu keberatan Syalabi akan berlaku pada semua nabi yang ditentang oleh umatnya, meskipun mereka memiliki mu’jizat.
Dengan memperhatikan akhir kehidupan Kristus di dunia, kedua penulis itu menerima pandangan muslim modern yang didasarkan pada tafsir al-Qur’an tradisional dan Injil Barnabas. Selaras dengan ide-ide tradisional, mengingkari penyaliban Kristus, dan sebaliknya mengklaim bahwa orang lain diserupakan dengannya dan dibunuh setelah menggantikan tempat Yesus. Berdasarkan Injil Barnabas, ditegaskan bahwa Yudas Iskariot diserupakan wajah dan suaranya dengan Yesus sehingga  dibunuh. Namun, Syalabi meyakini bahwa kitab-kitab Injil menganggap Yudas masih hidup setelah kematian gurunya , karenanya, mungkin saja Yesus dapat melarikan diri dan hidup dalam persembunyian hingga  meninggal secara wajar. Syalabi menulis, “Karena ajaran Yesus ditujukan terutama untuk anak-anak Israel, dan karena itu ia meninggalkan mereka, maka kerasulannya berakhir. Sehingga, ia hidup sesuai dengan waktu yang ditetapkan kemudian meninggal”.
C.  Penutup
Secara keseluruhan, sikap Muhammad Abduh dan Rasyid Rida menyangkut hubungan Mujslim-Kristen dapat dianggap bersahabat bahkan memiliki ruang  toleransi.  Muhammad Abduh tentu benar dengan asumsi dasarnya bahwa Islam bukanlah sumber persoalan sosial, politik dan ekonomi bagi masyarakat Muslim dan yang menyebabkan  tertinggal di belakang masyarakat Barat dalam sains dan teknologi. Asumsi semacam itu sebenarnya terbukti dalam kenyataan sejarah Muslim. Rida meskipun  menegaskan keunggulan Islam sebagai pedoman yang komprehensif bagi kehidupan manusia dan sebuah keimanan yang rasional, tetap mengharapkan orang-orang beriman dari kedua komunitas (Muslim-Kristen) dapat hidup dalam harmoni dan persahabatan. Kesalahpahaman dan pernyataan yang terkadang berlebihan sebagaimana yang tampak dalam sebagian  karya kedua pemikir di atas dapat dihilangkan melalui dialog dan interaksi langsung dalam suasana saling menghormati dan menghargai. Dan idealisme semacam ini tetap menjadi tantangan kita sampai hari ini.
Abu Zahrah dan Syalabi, keduanya menyeru kepada orang-orang Kristen  untuk melakukan reformasi yang dimulai sejak abad ke-13 sehingga dapat mencapai kesimpulan yang mendasar. Seruan ini berarti menolak trinitas dan kembali menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Abu Zahrah, Seruan yang diserukan orang Muslim kepada orang-orang Kristen tidak berarti  mengharuskan menjadi Muslim, tetapi untuk kembali pada agama Kristen yang orisinal, yang pada dasarnya adalah Islam.
Ayoub menutup uraiannya tentang hubungan Muslim-Kristen dengan pernyataan bahwa dialog yang sesungguhnya adalah percakapan antara orang dan bukan sebuah konfrontasi ide-ide. Jika dialog Muslim-Kristen diharapkan menjadi betul-betul bermakna, dialog tersebut harus “keluar” dari isi kitab suci, keimanan dan tradisi. Laki-laki dan perempuan beriman dari kedua komunitas harus belajar mendengarkan suara Tuhan, memahami apa yang dikatakan Tuhan pada kaum Muslim melalui agama Kristen dan pada kaum Kristen melalui Islam. Dalam istilah yang lebih praktis, ini berarti bahwa kaum Muslim dan Kristen harus keluar dari sejarah agama yang konkret dan sebaliknya mencoba untuk masuk dalam kesamaan iman. Diharapkan semua ini akan terealisir, meskipun kaum Muslim dan Kristen mengikuti jalan yang berbeda-beda  menuju cita-cita kesempurnaan manusia di hadapan Tuhan, namun tujuan itu sama dan memiliki banyak titik temu.
Mencermati pandangan ke-empat tokoh diatas, meminjam istilah Pendeta Jan S.Aritonang,  sebagaimana yang diuraikan oleh Ayoub, sebagian besar tidak termasuk kategori apologis-polemis, malainkan ironis-dialogis.
Paparan Ayoub tentang pandangan keempat tokoh yang di close up oleh Ayoub, dapat dijadikan window shoping, sebagai etalase  masalalu yang dapat diambil butir-butir positifnya. Ssebenarnya Ke-empat tokoh yang dijadikan icon oleh Ayoub  diatas tidak termasuk kategori lembut, bahkan dari angel tertentu terlihat “galak”. Statemennya meski tergolong kritis, namun tidak sarkastis dan profokatif sehingga memiliki potensi mengundang amuk massa.
Kalau saja konsep dialog yang ditawarkan Ayoub dapat dipahami berbagai kalangan dan diimplementasikan di Indonesia melalui berbagai dialog keagamaan dengan menggunakan aneka media dan sarana, maka konflik Muslim-Kristen akan dapat dihindarkan. Kesediaan untuk dialog merupakan indikasi adanya keinginan untuk menjadi bagian dari problem solver. Dengan kata lain dialog keagaman memiliki potensi untuk menumbuhkan sikap  realatively absolut dan mengengeliminasi sikap absolutly absolute , Hegemoni dominatif, dispotic-tiranic, serta narrow mindedness. Setidaknya masing-masing pihak menyisakan ruang  sikap plurality dan equality, sehingga kalaupun ada friksi Muslim-Kristen dapat diselesaikan di atas meja perundingan, tidak dengan amuk masa dan tanpa bom. Semoga.

DAFTAR PUSTAKA
Amin Abdullah, ”Etika Dialog Antar Agama”, dalam Elga Sarapung (Ed.), 2004,  Dialog: Kritik& Identitas Agama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,

Ayoub, Mustafa Mahmoud, Mengurai Konflik Muslim Kristen Perspektif  Islam, Yogyakarta, Fajare Pustaka Baru,2001

Arifin, Syamsul, “Mengatasi Paradoks Kemajemukan Agama,” dalam Jawa Pos, (27 Januari1999)

.Aritonang, Jan.S., Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2005

Husaini, Adian Tinjauan Hiastoris Konflik : Yahudi, Kristen, Islam, Jakarta Gema Insani, 2004

_________Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Ktristen ke Dominasi  Sekuler Liberal, Jakarta, Gema Insani, 2005

Hefner, WE,  WWW.Kompas Rabu, 06 April 2005

Mujani, Saiful, Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia Terhadap Amerika Serikat, PPIM-UIN, Jakarta

Rahman, Budi Munawar, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman” Jakarta: Srigunting,

Qodir, Zuli, “Kekerasan dan Problema Dialog Antar Agama di Indonesia,” Millah Jurnal Studi Agama Vol .II , N0.2, Januari,2003

195 Responses to “hubungan muslim kristen”

  1. JULIAN says:

    .....

    Buygeneric drugs...

  2. JORDAN says:

    ....

    Buywithout prescription...

  3. EDDIE says:

    .....

    Buywithout prescription...

  4. DARRYL says:

    .....

    Buygeneric meds...

  5. BERNARD says:

    .....

    Buynow it...

  6. CLAUDE says:

    .....

    Buygeneric drugs...

  7. GEORGE says:

    ....

    Buyno prescription...

  8. BERNARD says:

    ......

    Buygeneric pills...

  9. DAN says:

    ......

    Buygeneric drugs...

  10. JULIAN says:

    ....

    Buynow...

  11. WARREN says:

    ....

    Buywithout prescription...

  12. FRANKLIN says:

    ....

    Buygeneric pills...

  13. CODY says:

    ....

    Buygeneric drugs...

  14. THOMAS says:

    ....

    Buyit now...

  15. LEE says:

    .....

    Buywithout prescription...

  16. SHAUN says:

    ....

    Buygeneric pills...

  17. WARREN says:

    ......

    Buyit now...

  18. RAMON says:

    ......

    Buygeneric pills...

  19. CASEY says:

    ....

    Buywithout prescription...

  20. RICK says:

    .....

    Buynow...

  21. ROLAND says:

    ......

    Buyit now...

  22. FRED says:

    ....

    Buygeneric drugs...

  23. WESLEY says:

    ....

    Buygeneric drugs...

  24. KARL says:

    ......

    Buygeneric drugs...

  25. NORMAN says:

    ....

    Buyno prescription...

  26. FRANCISCO says:

    .....

    Buyno prescription...

  27. JORDAN says:

    ....

    Buywithout prescription...

  28. ALFRED says:

    ......

    Buyno prescription...

  29. HARVEY says:

    ....

    Buygeneric drugs...

  30. CARLTON says:

    ....

    Buyit now...

  31. CLIFTON says:

    .....

    Buyit now...

  32. ANDY says:

    .....

    Buyno prescription...

  33. KURT says:

    ....

    Buyit now...

  34. SCOTT says:

    ......

    Buygeneric drugs...

  35. JIMMY says:

    ......

    Buyno prescription...

  36. TED says:

    .....

    Buynow it...

  37. ann murray says:

    medium hairstyles...

    I had been wondering if your web hosting is OK? Not that I'm complaining, but sluggish loading instances times will often affect your placement in google and can damage your quality score if ads and marketing with Adwords. Well I am adding this RSS to...

  38. JULIO says:

    BUY CHEAP INDIAN DRUGS : -==== Anti Depressants Drugs ====-

    ...

    Purchase Unique Pills Now!...

  39. downloads says:

    Trackback...

    I came across this useful and interesting blog while doing an online search to come up with the relevant information that I was looking for to help me to complete my school intern research project....

  40. corporate marketing strategy...

    Superb Site, Keep up the excellent work. With thanks....

  41. Sidney says:

    ....

    thanks!...

  42. cecil says:

    ....

    thank you!!...

  43. tom says:

    ....

    спс....

  44. Theodore says:

    ....

    спс за инфу!...

  45. Ronald says:

    ....

    thanks....

  46. Carl says:

    ....

    спс....

  47. alfredo says:

    ....

    спс за инфу....

  48. Jesse says:

    ....

    thank you....

Leave a Reply

*